Rabu, 22 Oktober 2014

Autisme dipandang dari sudut medis

AUTISME DIPANDANG DARI SUDUT MEDIS
Oleh : dr. Melly Budhiman SpKj

AUTISME :
Gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak
Gejala sudah nampak sebelum umur 3 tahun

AUTISME :
Laki – laki : Perempuan = 4 : 1
Dapat terjadi pada siapa saja, tidak ada perbedaan suku, bangsa, status social-ekonomi, pendidikan
IQ : dari rendah sampai jenius

PREVALENSI :
1987 :1 : 5.000
1997 :1 : 500
2000 :1 : 150
2001 :1 : 138 (BERDASARKAN dan Conference Okt 2001 – Tambahan dari Red)

ISTILAH :
BLEULER
Autisma sebagai gejala dasar schizophrenia = hidup dalam dunia fantasinya sendiri
KANNER
Autisma infatil : hidup dalam dunianya sendiri

KAPAN GEJALA MULAI TAMPAK ?
Sejak bayi atau
Sudah berkembang relative normal
Setelah 3 tahun berhenti berkembang, mundur lalu timbul gejala autisme

GEJALA YANG TIMBUL
Gangguan perkembangan dalam bidang :
2.
Komunikasi
3.
Interaksi
4.
Perilaku
5.
Emosi
6.
Sensoris

GANGGUAN KOMUNIKASI
Terlambat bicara
Tak ada usaha untuk komunikasi non verbal dengan bahasa tubuh
Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti
Membeo (echolalia)
Tak memahami pembicaraan orang lain

GANGGUAN INTERAKSI
Tak mau menatap mata
Dipanggil tidak menengok
Tidak mau bermain dengan teman sebaya, lebih asyik main sendiri
Tidak ada empati

GANGGUAN PERILAKU
Cuek terhadap lingkungan
Asyik dengan dunianya sendiri





Semau – maunya, tidak mau diatur
Perilaku tidak terarah, mondar – mandir, lari – lari, manjat – manjat, berputar – putar, lompat – lompat, ngepak – ngepak tangan dan teriak – teriak
Agresif atau menyakiti diri sendiri
Melamun/bengong, terpukau pada benda berputar atau benda yang bergerak
Kelekatan terhadap benda tertentu
Perilaku yang ritualistik

GANGGUAN EMOSI
Tertawa, menangis, marah – marah sendiri tanpa sebab
Emosi tidak terkendali, temper tantrum bila tidak terkabul keinginannya
Rasa takut yang tidak wajar

GANGGUAN PERSEPSI SENSORIS
Menjilat-jilat benda
Mencium – cium benda
Menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu
Tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar
Sangat tahan terhadap rasa sakit

DIAGNOSIS AUTISMA
Didasarkan observasi klinis dan anamnesa yang teliti
Tidak memerlukan berbagai alat
Berbagai pemeriksaan (EEG, CT Scan, MRI) hanya atas indikasi
CARS, Psikotest hanya alat bantu diagnosis

KRITERIA DIAGNOSTIK
DSM – IV (APA – 1994)
ICD – 10

KERACUNAN DIAGNOSTIK
ADHD
KETERLAMBATAN BICARA
RETARDASI MENTAL
EPILEPSI

AUTISM – SPECTRUM
(GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF)
Autisme Infantil
Autisme Antipical
Sindrom Rett
Gangguan Disintegratis Masa Kanak
Gangguan Overaktif dengan Retardasi Mental disertai Gerak Stereotipik
Sindrom Asperger
Gangguan Perkembangan Pervasif YTT

PENYEBAB
Dahulu : Faktor psikologis Bruno Bettelheim : Teori Frigid Mother
Sekarang : Gangguan Neurobiologis pada Susunan Syaraf Pusat (SSP)








FAKTOR PENYEBAB
Gangguan pada Susunan Syaraf Pusat, disebabkan oleh
2.
Faktor genetik
3.
Gangguan pertumbuhan sel otak janin, infeksi virus, jamur, perdarahan, keracunan selama hamil muda
4.
Gangguan pencernaan
5.
Keracunan logam berat (Pb, Hg, Cad)
6.
Gangguan auto imunity

FAKTOR GENETIK
Mutasi genetik : penyebab multifaktor
Telah ditemukan lebih dari 7 gen yang berhubungan dengan autisme
Perlu beberapa gen untuk menimbulkan gejala autisme

GANGGUAN NEUROBIOLIGIS
Cerebellum
Lobus parietalis kiri/kanan
Lobus frontalis
Sistem limbic
Kerusakan pada myelin sel otak dan bagian dalam (endhotel) pembuluh darah otak
Gangguan neurotransmitter

GANGGUAN PENCERNAAN
Peradangan dari mucosa usus (autistic enterocolitis)
Leaky gut syndrome
Enzim pencernaan yang kurang
Terlalu banyak jamur dalam usus (yeast overgrowth)
Kekurangan enzim sehingga makanan tidak dicerna secara sempurna
Protein yang sulit dicerna :
1.
Casein (susu sapi/domba)
2.
Gluten (gandum)
Casein dan gluten : rangkaian 20 asam amino, seharusnya terpecah dengan sempurna
Peptide : 2 – 3 rantai asam amino yang diserap oleh darah dialirkan ke otak. Di otak menjadi casomorphin dan glutemorphin
 
YEAST OVERGROWTH
Pemberian Antibiotik yang terlalu sering :
1.
Membunuh bakteri komensal dalam usus, sehingga jamur berkembang biak berlebihan
2.
Merangsang pertumbuhan jamur

Infeksi Candida pada umur dini (bayi) bisa menyebabkan Candidiasis yang persisten
Gula, makanan yang tak tercerna, antibiotic, menyuburkan pertumbuhan jamur
Byproducts dari jamur mengacaukan metabolisme
Jamur menempel pada dinding usus dan enzyme pencernaan yang kurang membuat kerusakan pada dinding usus, sehingga usus berlubang (LEAKY GUT SYNDROM). Hal ini mengakibatkan peptide diserap masuk ke peredaran darah dan peptide masuk ke otak

KERACUNAN LOGAM BERAT (TOXIC MINERALS)
LOGAM BERAT : Hg, Pb, Cad, As dan Ai






Tanpa sengaja masuk ke dalam tubuh manusia melalui :
1.
Udara
2.
Air
3.
Obat
4.
Vaksinasi
5.
Tambalan gigi

KERACUNAN Hg (air raksa/mercury)
Tambalan gigi (amalgam) terdiri dari 50% silver dan 50% merkuri
Vaksin mengandung thimerosal (ethyl mercury)
Kosmetika : pemutih kulit
Salep anti – jamur
Obat tetes mata

KERACUNAN Hg
Hg sangat Neurotoksin karena merusak sel-sel otak dan dapat mengakibatkan timbulnya gejala – gejala autisme
Hg dapat menyebabkan mutasi genetik
Hg dapat menyebabkan immunodeficiency (berkurangnya kekebalan tubuh)

PEMERIKSAAN YANG DIBUTUHKAN
Darah, urine dan feaces untuk mengetahui :
2.
Gangguan pencernaan
3.
Jamur/parasit/bakteri di dalam usus
4.
Alergi makanan
5.
Peptide/morphin di dalam urine
6.
Kelainan genetik
7.
Kerusakan sel dan pembuluh darah otak
8.
Auto imunitas
9.
Mineral dan logam berat di dalam darah
Hair Mineral Analysis : mineral dan logam berat (Pb, Cad, Hg, As, Ai)

PENANGANAN SECARA MEDIS
Semua hal yang ditemukan pada pemeriksaan laboratorium harus ditangani secara intensif
Menyembuhkan penyebab fisik yang mempengaruhi fungsi Susunan Syaraf Pusat (SSP) seringkali bisa mengurangi/menghilangkan gejala autisme

KESIMPULAN
Autime Masa Kanak adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks
Prevalensi masih sedang meningkat dengan pesat
Timbulnya gejala seringkali dicetuskan oleh penyebab organ biologis
Para professional harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, supaya dapat bekerja sama melakukan pengobatan yang tepat dan terpadu

DIAMBIL DARI MAKALAH SEMINAR 16 Juni 2001


Jumat, 10 Oktober 2014

Pendidikan sexual pada penyandang autis

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita di salah satu surat kabar Jawa pos. Kamis, 9 Oktober 2014. Pada berita tersebut mengatakan ada seorang remaja Autis telah disodomi oleh seorang pria berusia 41 tahun di Kota Pasuruan. Kejadian tersebut berlangsung pada hari Selasa 7 September pukul 20.00. Singkat cerita pria tersebut mengaku bahwa sudah lama tidak merasakan hubungan suami istri, sehingga akhirnya tega menyodomi remaja autis tersebut. 
Ini adalah salah satu kasus yang sering terjadi di antara sekian anak dan remaja Autis. 
Ada beberapa hal yang membuat kasus ini terjadi di antaranya :
1. Para penyandang autis adalah orang yang kepatuhannya sangat bagus. Karena Pembentukan kepatuhan ini sejak kecil sudah menjadi bekal disaat anak menjalani proses terapi. 
2. Orang tua kurang membekali masa remaja anak di dalam pendidikan seksualnya sejak dini
3. Masyarakat belum memahami dan justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan mereka masing-masing. 

Pendidikan seksual kepada para anak berkebutuhan khusus sangatlah penting. Untuk memberikan pembekalan di masa depan mereka, di masa remaja hingga dewasa. Mengingat masyarakat juga beragam. Pembekalan pendidikan seksual harus dimulai sejak dini. Sejak usia 3 tahun sudah harus dibekalkan kepada mereka dan sesuai dengan tingkatan dan perkembangan usia. 

Hal-hal yang perlu kita bekal kan sejak dini adalah : 
1. Pisahkan tempat tidur Anak dengan orang tua. Jangan sekamar. 
2. Saat anak BAB/BAK mulai kenalkan harus di dalam toilet, sesuai dengan jenis kelaminnya. Demikian juga dengan pendampingan anak laki-laki dengan ayahnya dan anak perempuan dengan ibunya. 
3. Boleh cium saat-saat tertentu. Pada saat pagi hari atau saat menjelang tidur. 
4. Persiapkan gambar visualisasi dan perkenalkan sejak dini untuk mimpi basah pada anak laki-laki, untuk anak perempuan kenalkan bikini atau pakaian renang. Itu adalah area yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Kecuali dokter dan itu juga didampingi oleh orang tua. 
5. Pemahaman akan fungsi-fungsi setiap anggota tubuh. (Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa terkecuali pada bagian-bagian vital). Demikian juga dengan labeling nya, kenalkan dan paham kan dengan benar sesuai dengan bahasa kedokteran pada laki-laki PENIS bukan *burung*, atau VAGINA bukan *bebek* pada perempuan. 
6. Beri pemahaman akan rasa malu. Definisinya luas, paham kan yang mudah terlebih dahulu bahwa malu adalah saat telanjang tidak pakai baju keluar kamar mandi atau kamar. Kemudian tingkatkan pemahaman tersebut dengan malu lebih luas, misalnya malu saat teriak di tempat umum, malu saat menggaruk penis atau vagina di tempat umum. 
7. Latih dan visualisasi kan urutan mandi di dalam kamar mandi, mulai dari kegiatan lepas baju, mandi, sampai pakai baju kembali semua dilakukan di kamar mandi. 
8. Berganti pakaian harus di kamar mandi atau di kamar pribadi anak. 
9. Kenalkan dan paham kan anak pada orang yang dikenal, orang terdekat dan orang tidak dikenal. Fungsi dan peran mereka terhadap diri anak. Misalkan orang tua fungsi nya menjaga, mendidik, merawat anak, jadi terhadap orang tua anak harus hormat, taat sesuai firman Tuhan. teman-teman fungsinya bekerja sama dengan anak dalam hubungan sosialisasi, teman untuk bisa saling berbagi. Terhadap teman anak bisa menolak bila teman sedang meminta anak untuk melakukan hal-hal yang negatif, misalnya mencuri, atau memegang payudara teman lain, dan lain sebagainya. Orang tak dikenal, adalah orang sekitar. Ajarkan kepada anak apa yang harus anak lakukan terhadap orang tidak dikenal, ajarkan tentang etika dan cara bersikap. Tetap bekal kan pada anak berteriak untuk keadaan yang tepat. Misal anak dapat perlakuan negatif dari masyarakat, maka anak akan marah dan berteriak, tidak ada salahnya untuk sering-sering berbuat usil pada anak, karena bila kita usil pada anak, anak kita latih apa yang harus dilakukannya. Sehingga bila orang lain memperlakukan demikian, anak sudah tau bagaimana tindakannya. 
10. Bekali anak dengan visualisasi lingkaran sosial. 


Lingkaran pertama nama anak.
Lingkaran ke 2 nama anggota keluarga yaitu ayah, ibu, kakak, adik. anggota keluarga ini boleh mencium pipi anak, memeluk, dimandikan saat sakit, tidur di tempat tidur berama-sama, menyentuh bahu, menggandeng, minta uang, dll. yang tidak boleh dilakukan anak adalah : mencubit pantat, menyentuh alat kelamin sendiri, atau menyentuh payudara
sendiri atau orang lain, menyentuh kepala ayah dan ibu, buang air tanpa menutup pintu kamar mandi, masuk kamar tanpa mengetuk pintu, membentak, dll.
Lingkaran ke 3 adalah anggota keluarga yang terdekat seperti kakek, nenek, sepupu, paman, bibi. Yang boleh dilakukan adalah kepada anak adalah : mencium pipi, memeluk, menggandeng, bersalaman, minta tolong, menyentuh bahu, dll. yng tidak boleh dilakukan oleh anak sama seperti lingkaran ke 2 dan ditambah tidak boleh meminjam uang.
lingkaran ke 4 meliputi teman di sekolah, guru kelas dan trapi, pembantu, tetangga, tukng kebun, dl. Yang boleh dilakukan pada anak adalah bersalaman, menyentuh bahu, menggandeng, minta pertolongan. yang tidak boleh dilakukan anak sama dengan lingkaran ke 2 dan ke 3 ditambah tidak boleh mencium pipi.
Lingkaran terakhir adalah lingkaran yang terluar dan berisi orang-orang tak dikenal atau orang asing. pahamkan pada anak orang asing ini ada 2 kelompok yaitu orang yang jahat dan yang baik. misalnya dokter, polisi, satpam, penjaga toko, dll. yang baik adalah orang yang kita hubungi saat kita membutuhkn pertolongan atau pada saat kita berada dalam bahaya. sedangkan oarng asing yang jahat adalah orang-orang yang tidak dikenalkan pada anak. misalnya orang yang lalu lalang di jalan, anak-anak muda yang bergerombol di luar.  dengan adanya lingkaran sosial ini maka diharapkan kita dapat mengajarkan etika sopan santun baik di rumah maupun di luar rumah kepada anak dan anak dapat memahami secara visual sehingga mempermudah anak dalam mengingat bagaimana seharusnya anak bersikap di masyarakat umum. sebagai catatan tetap sesuaikan dengan kehidupan anak.



Sabtu, 13 September 2014

Bermain sebagai bentuk terapi

Kak Riska Timothy
(Praktisi dan Terapis Autis, Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus)
email : riska.timothy72@gmail.com



Pertanyaan : 
Syallom Kak Riska 
Saya ibu dari seorang anak Autis berusia 5 tahun, anak saya sudah menjalani terapi selama 3 tahun lebih, dan kemampuan memahami serta komunikasi verbal ya cukup baik. Anak saya juga sudah mengungkapkan dengan spontan apa yang diinginkannya. Namun dalam hal emosi, anak saya ini susah mengontrol dan kurang sabar di dalam menunggu misalkan antri di Bank saja sudah marah meledak-ledak dan ingin segera selesai. 
Apakah ada permainan yang bisa saya berikan kepada anak saya selagi dia menunggu? karena selama ini saya masih memberikan game di HP saya dan dia sangat menyukainya. Terima kasih dan Tuhan memberkati. 

Jawab : 
Kemampuan menunggu memang hal yang menjadi permasalahan bagi semua penyandang autisme yang sangat susah berdiam diri tanpa melakukan aktifitas. Beberapa orang tua memberi pilihan untuk membuat anak diam selagi menunggu, namun pilihan tersebut terkadang menjerumuskan anak, karena membuat anak semakin kurang berinteraksi dengan orang lain dan juga kurang mampu mengontrol diri tanpa adanya aktifitas apapun. Hal ini perlu dilatihkan dalam kegiatan sehari-hari sebelum dibawa ke lingkungan. Latihan di rumah bisa mulai dilakukan dengan mengantri mengambil makanan...libatkan semua orang/keluarga di dalam rumah untuk mengantri bersama dengan anak. Latih anak-anak untuk benar-benar mengantri dalam barisan sambil menunggu. Sedangkan untuk melatih kesabaran bisa dengan banyak permainan, misalkan mengelompokkan biji-bijian yang fungsinya juga melatih kemampuan motorik halus. Biji-bijian ini bisa berupa biji jagung, lalu tingkatkan yang agak kecil yaitu biji kacang hijau atau beras. Campurkan menjadi satu lalu pisahkan sesuai kelompoknya. 
Bila sedang emosi...latih kontrol dengan berhitung dan tarik nafas. Usahakan tangan tidak bergerak kemana-mana hingga anak mampu tenang. Selamat mencoba. 
Tuhan memberkati. 

Artikel :                                                   
Beberapa orang tua bertanya kepada saya kapan anaknya bisa bersosialisasi bersama teman-temannya, kapan anaknya bisa bermain dengan teman sebayanya, apakah mereka mengerti dan memahami bahwa bermain itu menyenangkan, dan lain-lain. 

Bermain adalah hal yang menyenangkan bagi anak-anak, dimana mereka akan berinteraksi satu dengan yang lainnya dengan teman-teman ataupun dengan benda yang mereka bawa. Berbagai macam perasaan mereka tuangkan dalam bermain, ada yang senang, sedih, cemburu, menangis, dan lain-lain. Pada anak-anak berkebutuhan khusus bermain juga merupakan bagian dari diri mereka, namun penggunaan benda sebagai sarana bermain yang tepat ataupun berkumpul bersama teman dalam konteks bermain, mereka sangat kesulitan. Terutama pada masyarakat yang belum menerima atau masih menganggap mereka berbeda. Hal tersebut membuat mereka cenderung menyendiri dan memisahkan diri dari lingkungan. 
Pada penyandang autisme mereka tidak tahu cara bermain dan berinteraksi dengan benar. Mereka sangat kesulitan untuk bergabung bersama teman-teman sebayanya, dan Tidak sedikit dari mereka yang cenderung menyendiri karena mereka tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, beberapa dari mereka terkadang ikut bermain dan bergabung dengan teman tetapi tetap dalam konteks kesendirian hanya berlari-lari, ataupun berjalan-jalan tanpa tujuan, bahkan mereka juga tidak tau cara memainkan benda yang mereka pegang. Contohnya : mereka akan memutar-mutar roda mobil saat mereka memegang mobil-mobilan, mereka akan mengetuk-ketukkan pensil ke meja dengan irama khusus, dan lain-lain. 

Langkah awal mengenalkan penyandang autis dalam bermain adalah konsep dirinya harus terbentuk terlebih dahulu. 
Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. 

Konsep diri pada penyandang autisme disini meliputi :
    a. Kemampuan anak melakukan kontak mata saat sedang berbicara ataupun berkomunikasi? 
    b. Kemampuan anak dalam memahami perintah sederhana misalkan : duduk, berdiri, ke sini, letakkan, ambil
    c. Kemampuan anak mengerti tentang apa yang dirasakannya dan apa yang orang lain rasakan bila melakukan suatu aktivitas atau terhadap sikapnya? Seperti kontrol emosi, etika dalam bersikap
    d. Kemampuan anak berkomunikasi secara sederhana
    e. Kemampuan anak dalam menggeneralisasikan apa yang diperolehnya dari pengamatan terhadap lingkungan.

Hal-hal diatas perlu sekali untuk diajarkan dan dilatihkan kepada para penyandang autisme sejak dini, karena kemampuan itu belum ada dalam diri mereka dan diciptakan untuk menjadi ada. Mereka memerlukan beberapa tahapan terapi untuk menunjang kemampuan dan konsep diri. Baik itu Terapi ABA (Applied Behavior Analysis), Terapi Sensori Integrasi, Terapi Wicara, dan lain-lain. 
Sesudah kemampuan dasar itu di dapat misalnya motorik anak cukup baik, bisa memegang mobil dengan baik, kontak mata bisa fokus terhadap benda yang dipegang, dan kemampuan imitasi atau meniru mulai dikuasainya, barulah kita mulai mengajarkan pola bermain dengan benda yang benar yaitu memegang mobil dan meletakkan di atas lantai atau meja kemudian dijalankan ke depan atau belakang dengan bersuara "Brrummmm", anak diminta untuk menirukan baik itu gerakan mobil tersebut hingga suara yang dimunculkan, lalu konsep bermain yang benar diperkenalkan. Bisa juga dengan aktivitas lain misalnya menyuap boneka, bermain puzzle, lego, dll. Tak lupa kita juga mulai memasukkan permainan "Berpura-pura" dimana permainan ini cukup bagus untuk mengajarkan anak berimajinasi dan kreatif dalam memunculkan ide. Latih dengan berekspresif...sehingga anak benar-benar tau bahwa bermain itu menyenangkan. Kemudian bila dengan benda mulai mampu, libatkan satu anak di dalam permainan tersebut. Bila terasa nyaman libatkan anak-anak yang lain untuk bermain bersama dan bantu anak untuk mulai masuk dalam proses sosialisasi dengan anak yang lain. Carilah permainan yang benar-benar bermanfaat dan mempunyai tujuan untuk anak berkembang. Kurangi nonton TV dan bermain (game) pada Gadget. 

Beberapa contoh permainan yang melibatkan interaksi dengan orang lain dan mempunyai tujuan adalah : 
1. Bermain balok, tujuan adalah melatih kemampuan menyusun, melatih kemampuan meniru gambar, melatih motorik halus dan melatih koordinasi mata dan tangan, melatih kesabaran. 
2. Bermain Puzzle, tujuannya adalah melatih koordinasi mata dan tangan, melatih motorik halus, melatih kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Bermain pura-pura, tujuannya adalah : melatih kemampuan berimajinasi, melatih memori, melatih pengamatan anak.
4. Lempar dan tangkap bola, tujuannya adalah : melatih konsentrasi, melatih fokus, melatih kemampuan motorik.
5. Dan lain-lain

Permainan-permainan di atas sangat berguna untuk melatih perkembangan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan tingkat kemampuannya dan kebutuhannya. Misalkan pada anak Down syndrome mereka lebih mudah melakukan permainan pura-pura, namun kesulitannya pada permainan yang melibatkan motoriknya bermain balok atau lempar tangkap bola. Ini karena mereka memiliki motorik yang lemah. Pada anak Cerebral Palsy, pemahaman instruksi baik, namun permainan yang diberikan adalah yang mendorong mereka untuk bergerak dan keseimbangan seperti berjalan merangkak melewati terowongan, memegang bola, dll karena tingkat kesulitannya pada kemampuan gerak yang kaku. Pada penyandang autis yang sangat kompleks baik segi motorik dan pemahaman mereka benar-benar diajarkan cara bermain yang benar, bagaimana mengambil bola, bagaimana melempar bola, bagaimana menangkap bola dari lawan, dll, itu karena penyandang autis tidak tahu apa yang akan mereka lakukan dengan aktivitas tersebut. Saat bermain lempar/tangkap bola dan bila tidak diajarkan bagaimana cara menangkap bola, mereka akan berdiam diri saja, jadi harus diajarkan satu Persatu dan terlepas dari itu semua diharapkan anak menikmati bahwa bermain itu menyenangkan. Peran orang tua sangat besar disini, untuk memberi stimulasi pada tiap perkembangan anak dan mengembangkan ketika kemampuan tersebut telah dicapainya.
Satu hal yang berguna bagi kita dan buah hati kita adalah hati yang penuh sukacita bersama keluarga, dan saat sukacita itu ada maka semangat itulah yang akan membawa hubungan dan kemajuan kemampuan anak-anak kita menjadi lebih baik.
Amsal 17 : 2 " Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Mari kita ciptakan suasana dan luangkan waktu bermain dengan anak-anak kita kapanpun dan dimanapun, saya percaya itu adalah moment yang sangat dinanti mereka, Salam bahagia Tuhan memberkati.


Jumat, 14 Februari 2014

Rumahku Harapanku



Kak Riska Timothy
(Praktisi dan Terapis Autis, Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus)
email : riska.timothy72@gmail.com

Rumah adalah tempat istimewa bagi sebuah keluarga yang bernaung di dalamnya. Sebuah keluarga yang Tuhan percayakan untuk memulai suatu kehidupan baru. Rumah tidak hanya berbicara tentang fisiknya yang hanya sebagai tempat tinggal saja, namun rumah memiliki fungsi lain yang lebih penting yaitu komunikasi, keterbukaan, otoritas, saling menghargai satu dengan yang lain. Keluarga yang tinggal di dalam rumah itu. Keluarga yang Tuhan percaya dan Tuhan bentuk lewat Pernikahan Kudus di dalam Tuhan. Langkah awal memulai suatu kehidupan baru dengan harapan-harapan-harapan yang terbaik dalam membina keluarga ini. Dimulai dari bagaimana menata rumah tersebut, pembagian tugasdalam rumah, hingga mulai berencana memiliki seorang anak yang bisa hadir dalam kehidupan keluarga mereka.
            Kabar sukacita diterima, Tuhan percayakan benih cinta dalam keluarga yang sudah dibentuk. Harapan-harapan yang baik yang terpikir dan mulai dilakukan. Persiapan untuk bayi mulai dari memilih dokter kandungan yang baik, makanan yang baik untuk tumbuh kembang janin, kontrol rutin, mempersiapkan segala perlengkapan bayi, rumah sakit yang terbaik, dan tentunya tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan nama untuk sang bayi dengan arti-arti nama atau tokoh-tokoh Alkitab dengan harapan bila anak tersebut bertumbuh besar akan menjadi sama seperti tokoh tersebut. Semua dipersiapkan dan diharapkan yang terbaik akan lahir di dunia.
Proses kelahiran yang dinanti tiba. Keluarga ini sangat bahagia menyambutnya…keluarga besar juga menyambut dengan sukacita, sebuah generasi penerus keluarga telah lahir, yang menjadi harapan di masa yang akan datang, yang bisa membanggakan orang tua kelak dewasa. Senyum terpancar mengembang, suara tangis bayi yang dinanti menjadi pemecah keheningan rumah. Tetapi kadang tak seperti yang diharapkan, beberapa keluarga hal tersebut tidak merasakan hal sama ketika mendapati seorang bayi lemah yang tergeletak dan terlahir jauh dari normal. Beberapa dari mereka cacat fisik, beberapa dari mereka menyandang Down Syndrome (keterbelakangan mental), beberapa dari mereka Cerebral Palsy (Kelainan pada otak), bahkan mungkin di awal usia perkembangannya normal tetapi menginjak tahun ke 2 mengalami kemunduran dan muncul perilaku-perilaku aneh atau tidak wajar seperti dipanggil tidak menoleh, terlambat bicara, suka menggerak-gerakkan jari/tangan (Flapping), dan lan-lain, dan anak tersebut ternyata didiagnosa AUTIS.Sebuah istilah yang sering kita dengar dan tidak asing.Istilah yang sering digunakan secara “sembarang” untuk menjuluki para pengguna gadget ketika terlalu asyik dengan gadgetnya tanpa memperdulikan lingkungannya.
Pada dasarnya mereka-mereka ini adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Ketika para orang tua mengetahui keberadaan anaknya yang berkebutuhan khusus, bermacam-macam reaksi dari para orang tua, beberapa diantaranya menepis bahwa anak mereka tidak ada masalah, beberapa diantaranya menangis karena kecewa dengan Tuhan, beberapa diantaranya lagi pergi meninggalkan anaknya dan lebih parah lagi beberapa di antara mereka saling menyalahkan antara suami dan istri dan tidak mau mengakui anaknya yang berkebutuhan khusus. Sulit bagi mereka untuk menerima dengan sepenuh hati, dan tidak sedikit pula dari antara mereka yang justru menyalahkan Tuhan atas hadirnya anak berkebutuhan  khusus dalam hidup mereka. “Mengapa harus kami ?, Mengapa harus anak kami ?, Bukankah Tuhan memberi yang terbaik, namun mengapa harus begini ?”, dan sebagainya. Pertanyaan – pertanyaan ini banyak terbesit pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Harapan yang sebelumnya dibangun, harus pupus dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus. Memerlukan proses untuk menerima dan mungkin saat itu juga penerimaan diri sudah tercapai, namun penerimaan hati perlu proses ketulusan. Ketulusan hati dari kedua orang tua. Nah inilah yang seringkali terjadi…salah satu diantara kedua orang tua masih belum bisa menerima sampai mereka bertumbuh, menganggap tidak ada permasalahan pada anaknya dan baik-baik saja, walau sebenarnya dengan menerima dan merubah paradigma, akan mempercepat proses untuk berpikir ke depan.
Juni 2006 lalu saya mendapat telepon dari seorang ibu.  Beliau mengetahui nomor saya setelah melihat dari surat kabar tentang saya yang menyediakan terapi untuk anak berkebutuhan khusus dengan terapi rumah (Home Visit). Beberapa hari setelah ditelepon kami mengadakan perjanjian untuk bertemu, saya datang ke rumah untuk melakukan observasi dan juga berbincang bersama orang tuanya. Ketika saya sampai di rumahnya, saya masuk dan melihat seorang anak laki-lak berwajah ganteng (sebut saja namanya “R) sedang naik turun kursi tanpa henti dan tidak mengenal rasa capek. Mama dan Papa menyambut dengan baik..”Inilah anak kami “R”, beberapa waktu yang lalu kami dari dokter dan anak kami didiagnosa AUTIS” kata mamanya kepada saya. Saat itu usia anak 4 tahun dan belum berkomunikasi. Ketika saya coba memanggil, R tidak bereaksi apapun terhadap panggilan, dan “R” juga suka menggerak-gerakkan tangan/mengibas-kibaskan tangan berulang (Flapping). Kemudian ibu dari “R” ini melanjutkan ceritanya bahwa perilaku aneh ini sudah dicurigai sejak “R” berusia 2 tahun, karena kontak mata tidak ada, dipanggil juga tidak berespon, apalagi berkomunikasi sama sekali tidak ada, hanya teriak dan menggumam. Di usia 2 tahun ini ibu dari “R” sudah berencana berkonsultasi ke dokter, namun sang ayah menolak dengan alasan bahwa tidak ada masalah dengan perkembangan anaknya dan hanya terlambat, karena dulu ayahnya juga terlambat untuk memulai bicara. Akhirnya sang ibu menyetujui pendapat ayahnya dan menepis bahwa tidak ada masalah dengan anaknya. Dan 1 tahun berlalu hingga usia 3 tahun, ayahnyapun juga masih menolak untuk melakukan konsultasi dan ditarget sampai 1 tahun ke depan yaitu di usia 4 tahun. Dan tibalah saatnya di usia 4 tahun ini ternyata apa yang dikhawatirkan sang ibu terjadi, “R” belum juga menunjukkan hasil dari perilakunya, semakin tidak terkontrol dan kurang terbentuk, ketika marah cenderung teriak dan menyerang orang yang ada di dekatnya. Pola tidurnya juga sedikit mengalami gangguan, tidur selalu di atas jam 2 malam, 2 tahun sebelumnya kalau tidur jam 12 – 1  malam. Saat inilah sang ibu memutuskan diri untuk mencarikan solusi untuk “R”. Dengan persamaan pendapat dari sang ayah, maka mereka memawa “R” ke dokter dan mendapat dignosa Autis dari dokter yang bersangkutan, dan langkah lebih lanjut anak menjalani tes lab untuk memastikan kandungan dalam tubuh “R”, kemudian untuk menunjang kemampuan dan pemahaman “R” dianjurkan untuk menjalani Terapi Perilaku dan Wicara, dll. Diharapkan dengan mendapat terapi “R” semakin membaik. Atas persetujuan sang ayah pula akhirnya perjumpaan kami terjadi. Dan satu tahap ke depan akan dimulai ketika orang tua sudah memutuskan menerima dan merubah paradigma bahwa “R” perlu penanganan khusus untuk menunjang kemampuan dan pemahaman perilaku terhadap diri sendiri dan orang lain. Dan upaya ini akan dilakukan demi suatu harapan yang terbaik dari “R”. Dan ketika kedua orang tua menyatukan persepsi dan menyerahkan kepada Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan orang yang tepat untuk bekerjasama dengan orangtuanya di dalam tumbuh kembang anak.
            Awal terapi masih observasi 1 minggu dengan memberi materi apa yang mampu digali untuk proses belajar “R”. Minggu pertama sudah terasa penolakan keras dari “R” dalam sessi terapinya. Menolak dan menyerang itu yang selalu dilakukan. Teriak, menarik rambut terapis dengan cukup kuat ketika anak mulai tidak patuh dengan perintah. Ibu “R” mndengar teriakan “R” dibelakang menangis tersedu-sedu…sampai beberapa hari tangisan itu saya dengar. “Berat” katanya singkat seperti tidak tega. Saya bilang itu proses, asal konsisten pasti ada perubahan. “Ibu Berdoa saja kepada Tuhan dan serahkan semuanya kepada Tuhan, bahwa ini bagian dari proses keluarga ibu” kata saya. Sang ibu ini terus menangis dan satu kata saya ucapkan “Kalau ibu tidak tega, ibu keluar saja dahulu ketika proses terapi berlangsung, tetapi suatu saat ibu harus tetap tegar. Berpikir positif adalah terbaik, dan berserah padaNya” kata saya. Cukup membuat tenang sang ibu. Dan karena terapinya konsisten, maka dalam 1 minggu terapi harus diberikan setiap hari. Dan keesokan hari, ketika proses terapi berlangsung sang ibu segera keluar dari rumah..dan itu dilakukan hingga dalam kurun waktu 2 bulan, dan kembali ke rumah setelah jam terapi anak selesai. Dan setelah masa 2 bulan, sang ibu memutuskan untuk tetap bantahan di dalam rumah, walau secara hati juga berontak mendengar pemberontakan terapi dari “R”. “mau sampai kapan saya harus di luar, saya harus kuat demi R” kata ibu dengan hati yang mulai terbuka dan bersikap tegar.  Singkat cerita hingga 3 bulan terapi, R sudah mau meniru (imitasi) setiap gerakan yang saya lakukan. Termasuk meniru kata dari mulutnya. Ibu “R” tampak senang sekali mendengar perubahan anaknya dan sesekali sang ibu juga ikut melatih di rumah. Tentunya kemajuan juga cukup baik, karena ada kerjasama dengan orang tuanya. Tepat tanggal 21 September 2006 spontanitas kata “APA” diucapkannya sebagai respon atas panggilan akan namanya. Saat itu kami berdua bersorak kegirangan mendengar spontannya, “PUJI TUHAN”…dan secara langsung saya kembangkan dengan melakukan penawaran terhadap reward (hadiah) sebagai bentuk respon positif dari anak, dan juga supaya anak beranggapan bahwa kata tersebut berarti respon atas panggilan. Yah, setahap lagi…semua Tuhan mulai bukakan dan singkapkan pemahaman anak ketika konsistensi pembelajaran itu dilakukan. Senyum terkembang di wajah sang ibu dan tak henti-hentinya mulut berucap “Puji Tuhan” setelah mendengar kata pertama yang keluar…Harapan itu kembali muncul dengan kuat, berharap akan ada kembali kata kedua, ketiga dan seterusnya.
            Selama kita berdoa, berserah dan menyerahkan diri kepada Tuhan, serta berusaha bertindak untuk mencari penyelesaian atas sebuah masalah, maka Tuhan tidak akan tinggal diam. Kisah didalam Injil Yohanes 9:1-7  tentang”Orang yang buta sejak lahir” membawa kita kepada paradigma yang sama dengan murid-murid Yesus , yang bertanya” siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga Ia dilahirkan buta ?jawab Yesus”Bukan dia dan juga bukan orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ayat 3).Pertama, Jika kita mulai menyadari bahwa keluarga kita sedang diproses dan dengan iman kita percaya bahwa Tuhan memberikan masa depan yang penuh harapan, saat itulah pekerjaan-pekerjaan Allah akan dinyatakan didalam keluarga kita. Kedua, Jika kita mengerjakan pekerjaan Dia, dalam arti sesungguhnya yaitu tidak hanya berharap tanpa usaha.Tuhan melihat usaha dan Tuhan mau kita hanya berharap padaNya. Selalu ada harapan bagi setiap orang yang percaya dan yang mau berpegang teguh pada kebenaran fimanNya.
Tuhan Yesus Memberkati