Jumat, 14 Februari 2014

Rumahku Harapanku



Kak Riska Timothy
(Praktisi dan Terapis Autis, Pemerhati Anak Berkebutuhan Khusus)
email : riska.timothy72@gmail.com

Rumah adalah tempat istimewa bagi sebuah keluarga yang bernaung di dalamnya. Sebuah keluarga yang Tuhan percayakan untuk memulai suatu kehidupan baru. Rumah tidak hanya berbicara tentang fisiknya yang hanya sebagai tempat tinggal saja, namun rumah memiliki fungsi lain yang lebih penting yaitu komunikasi, keterbukaan, otoritas, saling menghargai satu dengan yang lain. Keluarga yang tinggal di dalam rumah itu. Keluarga yang Tuhan percaya dan Tuhan bentuk lewat Pernikahan Kudus di dalam Tuhan. Langkah awal memulai suatu kehidupan baru dengan harapan-harapan-harapan yang terbaik dalam membina keluarga ini. Dimulai dari bagaimana menata rumah tersebut, pembagian tugasdalam rumah, hingga mulai berencana memiliki seorang anak yang bisa hadir dalam kehidupan keluarga mereka.
            Kabar sukacita diterima, Tuhan percayakan benih cinta dalam keluarga yang sudah dibentuk. Harapan-harapan yang baik yang terpikir dan mulai dilakukan. Persiapan untuk bayi mulai dari memilih dokter kandungan yang baik, makanan yang baik untuk tumbuh kembang janin, kontrol rutin, mempersiapkan segala perlengkapan bayi, rumah sakit yang terbaik, dan tentunya tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan nama untuk sang bayi dengan arti-arti nama atau tokoh-tokoh Alkitab dengan harapan bila anak tersebut bertumbuh besar akan menjadi sama seperti tokoh tersebut. Semua dipersiapkan dan diharapkan yang terbaik akan lahir di dunia.
Proses kelahiran yang dinanti tiba. Keluarga ini sangat bahagia menyambutnya…keluarga besar juga menyambut dengan sukacita, sebuah generasi penerus keluarga telah lahir, yang menjadi harapan di masa yang akan datang, yang bisa membanggakan orang tua kelak dewasa. Senyum terpancar mengembang, suara tangis bayi yang dinanti menjadi pemecah keheningan rumah. Tetapi kadang tak seperti yang diharapkan, beberapa keluarga hal tersebut tidak merasakan hal sama ketika mendapati seorang bayi lemah yang tergeletak dan terlahir jauh dari normal. Beberapa dari mereka cacat fisik, beberapa dari mereka menyandang Down Syndrome (keterbelakangan mental), beberapa dari mereka Cerebral Palsy (Kelainan pada otak), bahkan mungkin di awal usia perkembangannya normal tetapi menginjak tahun ke 2 mengalami kemunduran dan muncul perilaku-perilaku aneh atau tidak wajar seperti dipanggil tidak menoleh, terlambat bicara, suka menggerak-gerakkan jari/tangan (Flapping), dan lan-lain, dan anak tersebut ternyata didiagnosa AUTIS.Sebuah istilah yang sering kita dengar dan tidak asing.Istilah yang sering digunakan secara “sembarang” untuk menjuluki para pengguna gadget ketika terlalu asyik dengan gadgetnya tanpa memperdulikan lingkungannya.
Pada dasarnya mereka-mereka ini adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Ketika para orang tua mengetahui keberadaan anaknya yang berkebutuhan khusus, bermacam-macam reaksi dari para orang tua, beberapa diantaranya menepis bahwa anak mereka tidak ada masalah, beberapa diantaranya menangis karena kecewa dengan Tuhan, beberapa diantaranya lagi pergi meninggalkan anaknya dan lebih parah lagi beberapa di antara mereka saling menyalahkan antara suami dan istri dan tidak mau mengakui anaknya yang berkebutuhan khusus. Sulit bagi mereka untuk menerima dengan sepenuh hati, dan tidak sedikit pula dari antara mereka yang justru menyalahkan Tuhan atas hadirnya anak berkebutuhan  khusus dalam hidup mereka. “Mengapa harus kami ?, Mengapa harus anak kami ?, Bukankah Tuhan memberi yang terbaik, namun mengapa harus begini ?”, dan sebagainya. Pertanyaan – pertanyaan ini banyak terbesit pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Harapan yang sebelumnya dibangun, harus pupus dengan hadirnya anak berkebutuhan khusus. Memerlukan proses untuk menerima dan mungkin saat itu juga penerimaan diri sudah tercapai, namun penerimaan hati perlu proses ketulusan. Ketulusan hati dari kedua orang tua. Nah inilah yang seringkali terjadi…salah satu diantara kedua orang tua masih belum bisa menerima sampai mereka bertumbuh, menganggap tidak ada permasalahan pada anaknya dan baik-baik saja, walau sebenarnya dengan menerima dan merubah paradigma, akan mempercepat proses untuk berpikir ke depan.
Juni 2006 lalu saya mendapat telepon dari seorang ibu.  Beliau mengetahui nomor saya setelah melihat dari surat kabar tentang saya yang menyediakan terapi untuk anak berkebutuhan khusus dengan terapi rumah (Home Visit). Beberapa hari setelah ditelepon kami mengadakan perjanjian untuk bertemu, saya datang ke rumah untuk melakukan observasi dan juga berbincang bersama orang tuanya. Ketika saya sampai di rumahnya, saya masuk dan melihat seorang anak laki-lak berwajah ganteng (sebut saja namanya “R) sedang naik turun kursi tanpa henti dan tidak mengenal rasa capek. Mama dan Papa menyambut dengan baik..”Inilah anak kami “R”, beberapa waktu yang lalu kami dari dokter dan anak kami didiagnosa AUTIS” kata mamanya kepada saya. Saat itu usia anak 4 tahun dan belum berkomunikasi. Ketika saya coba memanggil, R tidak bereaksi apapun terhadap panggilan, dan “R” juga suka menggerak-gerakkan tangan/mengibas-kibaskan tangan berulang (Flapping). Kemudian ibu dari “R” ini melanjutkan ceritanya bahwa perilaku aneh ini sudah dicurigai sejak “R” berusia 2 tahun, karena kontak mata tidak ada, dipanggil juga tidak berespon, apalagi berkomunikasi sama sekali tidak ada, hanya teriak dan menggumam. Di usia 2 tahun ini ibu dari “R” sudah berencana berkonsultasi ke dokter, namun sang ayah menolak dengan alasan bahwa tidak ada masalah dengan perkembangan anaknya dan hanya terlambat, karena dulu ayahnya juga terlambat untuk memulai bicara. Akhirnya sang ibu menyetujui pendapat ayahnya dan menepis bahwa tidak ada masalah dengan anaknya. Dan 1 tahun berlalu hingga usia 3 tahun, ayahnyapun juga masih menolak untuk melakukan konsultasi dan ditarget sampai 1 tahun ke depan yaitu di usia 4 tahun. Dan tibalah saatnya di usia 4 tahun ini ternyata apa yang dikhawatirkan sang ibu terjadi, “R” belum juga menunjukkan hasil dari perilakunya, semakin tidak terkontrol dan kurang terbentuk, ketika marah cenderung teriak dan menyerang orang yang ada di dekatnya. Pola tidurnya juga sedikit mengalami gangguan, tidur selalu di atas jam 2 malam, 2 tahun sebelumnya kalau tidur jam 12 – 1  malam. Saat inilah sang ibu memutuskan diri untuk mencarikan solusi untuk “R”. Dengan persamaan pendapat dari sang ayah, maka mereka memawa “R” ke dokter dan mendapat dignosa Autis dari dokter yang bersangkutan, dan langkah lebih lanjut anak menjalani tes lab untuk memastikan kandungan dalam tubuh “R”, kemudian untuk menunjang kemampuan dan pemahaman “R” dianjurkan untuk menjalani Terapi Perilaku dan Wicara, dll. Diharapkan dengan mendapat terapi “R” semakin membaik. Atas persetujuan sang ayah pula akhirnya perjumpaan kami terjadi. Dan satu tahap ke depan akan dimulai ketika orang tua sudah memutuskan menerima dan merubah paradigma bahwa “R” perlu penanganan khusus untuk menunjang kemampuan dan pemahaman perilaku terhadap diri sendiri dan orang lain. Dan upaya ini akan dilakukan demi suatu harapan yang terbaik dari “R”. Dan ketika kedua orang tua menyatukan persepsi dan menyerahkan kepada Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan orang yang tepat untuk bekerjasama dengan orangtuanya di dalam tumbuh kembang anak.
            Awal terapi masih observasi 1 minggu dengan memberi materi apa yang mampu digali untuk proses belajar “R”. Minggu pertama sudah terasa penolakan keras dari “R” dalam sessi terapinya. Menolak dan menyerang itu yang selalu dilakukan. Teriak, menarik rambut terapis dengan cukup kuat ketika anak mulai tidak patuh dengan perintah. Ibu “R” mndengar teriakan “R” dibelakang menangis tersedu-sedu…sampai beberapa hari tangisan itu saya dengar. “Berat” katanya singkat seperti tidak tega. Saya bilang itu proses, asal konsisten pasti ada perubahan. “Ibu Berdoa saja kepada Tuhan dan serahkan semuanya kepada Tuhan, bahwa ini bagian dari proses keluarga ibu” kata saya. Sang ibu ini terus menangis dan satu kata saya ucapkan “Kalau ibu tidak tega, ibu keluar saja dahulu ketika proses terapi berlangsung, tetapi suatu saat ibu harus tetap tegar. Berpikir positif adalah terbaik, dan berserah padaNya” kata saya. Cukup membuat tenang sang ibu. Dan karena terapinya konsisten, maka dalam 1 minggu terapi harus diberikan setiap hari. Dan keesokan hari, ketika proses terapi berlangsung sang ibu segera keluar dari rumah..dan itu dilakukan hingga dalam kurun waktu 2 bulan, dan kembali ke rumah setelah jam terapi anak selesai. Dan setelah masa 2 bulan, sang ibu memutuskan untuk tetap bantahan di dalam rumah, walau secara hati juga berontak mendengar pemberontakan terapi dari “R”. “mau sampai kapan saya harus di luar, saya harus kuat demi R” kata ibu dengan hati yang mulai terbuka dan bersikap tegar.  Singkat cerita hingga 3 bulan terapi, R sudah mau meniru (imitasi) setiap gerakan yang saya lakukan. Termasuk meniru kata dari mulutnya. Ibu “R” tampak senang sekali mendengar perubahan anaknya dan sesekali sang ibu juga ikut melatih di rumah. Tentunya kemajuan juga cukup baik, karena ada kerjasama dengan orang tuanya. Tepat tanggal 21 September 2006 spontanitas kata “APA” diucapkannya sebagai respon atas panggilan akan namanya. Saat itu kami berdua bersorak kegirangan mendengar spontannya, “PUJI TUHAN”…dan secara langsung saya kembangkan dengan melakukan penawaran terhadap reward (hadiah) sebagai bentuk respon positif dari anak, dan juga supaya anak beranggapan bahwa kata tersebut berarti respon atas panggilan. Yah, setahap lagi…semua Tuhan mulai bukakan dan singkapkan pemahaman anak ketika konsistensi pembelajaran itu dilakukan. Senyum terkembang di wajah sang ibu dan tak henti-hentinya mulut berucap “Puji Tuhan” setelah mendengar kata pertama yang keluar…Harapan itu kembali muncul dengan kuat, berharap akan ada kembali kata kedua, ketiga dan seterusnya.
            Selama kita berdoa, berserah dan menyerahkan diri kepada Tuhan, serta berusaha bertindak untuk mencari penyelesaian atas sebuah masalah, maka Tuhan tidak akan tinggal diam. Kisah didalam Injil Yohanes 9:1-7  tentang”Orang yang buta sejak lahir” membawa kita kepada paradigma yang sama dengan murid-murid Yesus , yang bertanya” siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga Ia dilahirkan buta ?jawab Yesus”Bukan dia dan juga bukan orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ayat 3).Pertama, Jika kita mulai menyadari bahwa keluarga kita sedang diproses dan dengan iman kita percaya bahwa Tuhan memberikan masa depan yang penuh harapan, saat itulah pekerjaan-pekerjaan Allah akan dinyatakan didalam keluarga kita. Kedua, Jika kita mengerjakan pekerjaan Dia, dalam arti sesungguhnya yaitu tidak hanya berharap tanpa usaha.Tuhan melihat usaha dan Tuhan mau kita hanya berharap padaNya. Selalu ada harapan bagi setiap orang yang percaya dan yang mau berpegang teguh pada kebenaran fimanNya.
Tuhan Yesus Memberkati

Jumat, 03 Januari 2014

Ciri Autis 1

1. Cuek

Karena aku tidak tahu harus bagaimana ketika aku dipanggil, ajari aku menoleh saat aku dipanggil, ajari aku menjawab apa saat dipanggil, ajari aku menatap orang yang memanggilku.Ajari aku tuk peka dengan suara-suara. latih aku dengan musik, itu membantu kepekaan telingaku, latih aku pula dengan gerakan dan suara pelan maupun keras, sehingga ketika aku mendengar suaa itu, aku bisa mencari dimana dan arah sumber suara itu berada. 

BANTU AKU YA

2. Suka Menutup Telinga dan Mata

Aku mendengar betapa bisingnya ruangan yang sunyi, betapa sakitnya telinga ini mendengar suara blender berbunyi nyaring sekali, Betapa silaunya mata ini melihat cahaya lampu yang bersinar. aku suka melihat bayangan di dalam mataku saat mataku terpejam, aku suka melihat bintang-bintang bertebaran saat kumulai membuka mata ini, aku suka melirik ke kanan atau ke kiri untuk memastikan bahwa mata dan kelopakku nyaman, aku suka melihat sudut ruang dengan mataku. Tapi aku paling tidak suka harus melihat mata seseorang. sakit rasanya bila harus fokus. kata mamaku kalau bicara harus lihat mata orang yang diajak bicara, tapi aku susah sekali melakukannya. BANTU AKU YA.
Terapisku selalu membuat kacamata kuda untukku, supaya aku bisa fokus, terapisku suka mengarahkan mainan atau makanan kesukaanku ke matanya sambil bilang "LIHAT" supaya aku belajar menatap. 

BANTU AKU YA. 



3. Echolalia

Orang bilang aku seperti kaset rusak, suka mengulang-ulang apa yang dibicarakan orang lain, suka mengulang apa yang ditanyakan orang lain. mama selalu bingung, mengapa setiap kali mama tanya, "hallo, beni. Apa kabar?" aku juga menjawab "hallo beni, Apa kabar?"
dulu sebelum aku berbicara...aku selalu marah dan tantrum, sekarang begitu aku berbicara, semua orang bilang aku seperti burung Beo. aduh susahnya....ketika aku laparpun aku bilang "mau apa, makan?" seperti yang mama sering katakan padaku. tapi mama selalu mengerti bahasaku, tapi tidak dengan yang lain, kalau aku bicara mereka selalu ketawa...dan bilang"kok diulang, kok jadi Beo"...yah Itulah aku.
Ajari aku berkomunikasi.
Terapisku berkata...harus ada yang membantuku utk menjawab, sehingga aku meniru jawaban itu. Mama melakukan dengan minta bantuan papa. jadi saat mama bilang "Hallo, beni. Apa kabar" sebelum aku mengulang, papa sudah bantu jawaban "baik", jadi aku meniru apa yang papa bilang. sejak itulah aku mengerti bahwa komunikasi itu bukan mengulang. tapi aku harus tetap belajar..belajar dan belajar.

mengapa aku harus mengulang?
1. karena aku tidak tau aku harus jawab apa (sama seperti org pada umumnya saat ditanya pelajaran dan tidak mengerti jawabnya, pasti akan diulang kembali)
2. terkadang saat aku cemas, aku juga echolalia

Ingatkan aku yah...Pahami aku, Ajari aku.




4. Tidak takut terhadap bahaya

Aku tidak tahu, mengapa aku harus menoleh kanan dan kiri kala aku menyeberang, mengapa aku harus melewati jalan yang seperti zebra kala aku juga harus menyeberang, mengapa menunggu lampu harus menyala merah dulu bila harus menyeberang. semuanya seperti aneh bagiku, apa artinya. Lampu adalah lampu, warna adalah warna, dan aku tidak tahu untuk apa semua itu. mama bilang "hati-hati bila berjalan di jalan raya, tunggu lampu menyala merah karena artinya itu berhenti, kamu boleh menyeberang, hijau artinya jalan, kamu jangan menyeberang.."
Lo bukannya kalau berhenti ya aku harus berhenti, dan jalan, aku juga harus jalan menyeberang...
aku tidak tahu mengapa harus hati-hati memegang tali kipas...agiku itu adalah tali, bila dimasukkan ke lubangnya maka kipas akan berputar dan itu membuatku senang. mama bilang "hati-hati kalau masukkan ke lubangnya, bisa kesetrum" kata apa lagi itu, aneh bagiku....
Saat aku pegang pisau, terkadang mama teriak keras dan langsung mengambilnya..."hati-hati lagi itu katanya" pisau adaalh benda untuk memotong sayur dan buah..itu yang aku tahu, mengapa pakai teriak segala dan harus hati-hati.

Tolong Jelaskan padaku, aku bingung dan semuanya merasa aneh. BANTU AKU YA.
 


5. Motorik kasar dan halus terhambat
 Aku kesulitan mengkoordinasikan gerak tubuhku. sehingga ku sering terjatuh, ku sering kurang mampu mengontrol gerak tubuh kanan dan kiri seakan-akan kurang seimbang. ku kesulitan kontrol emosi, dan aku kurang bisa bermain dengan benar terutama memfungsikan anggota tubuh, otak dan jari-jariku. kata mama aku harus sering berlatih merangkak, berdiri, dan berlari, berjalan di atas papan titian melatih konsentrasi dan motorik kasar. 
Gerakan (motorik) kasar adalah semua gerakan yang dapat dilakukan oleh sebagian besar anggota tubuh dan memerlukan tenaga yang besar. Gerakan tersebut misalnya tengkurap, merangkak, berjalan, dan berlari.
aku juga harus berlatih untukgerakan-gerakan motorik halus untuk mempersiapkan kemampuan akademikku terutama dalam hal menulis. 
Gerakan (motorik) halus adalah gerakan yang hanya dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu dan memerlukan tenaga sedikit saja. Misalnya menggunting dan menempel kertas, menggambar, menulis, gerakan mengambil benda menggunakan jari tangan, dan memasukkan benda ke dalam botol. 

BANTU AKU Berlatih Ya. 

 

Ciri Autis

Ciri-ciri Autis :

1. Cuek

2. Suka menutup telinga dan mata

3. Echolalia

4. Tidak peduli bahaya

5. Motorik kasar dan halus terhambat

6. Menyakiti diri sendiri, Emosi tidak stabil

7. Suka benda bulat dan berputar

8. Ada masalah di Sensori (baju, memilih makanan/ taktile, peraba, pendengar, penglihat, dll)

9. Tidak mau dipeluk/disentuh

10. Tidak ada kontak mata

11. Kalau menginginkan sesuatu lebih suka menunjuk

12. Sering menangis tanpa sebab, Tertawa tanpa Sebab, bicara Bahasa Planet

13. Tubuh bergerak ke kanan kiri ketika Gelisah

14. Komunikasi Non Verbal..Bicara terlambat

15. Diam saja bila dipukul teman

16. Suka melakukan gerakan berulang-ulang. Misalnya mengumpulkan batu dan melemparkan ke air.

17. Fokus pada apa yang disuka (kalau pelajaran hanya satu bidang saja yang menonjol)

18. Anak Autis itu saklek dengan yang namanya ATURAN. Mereka tidak mengerti cara melanggar aturan

19. Anak Autis tidak mengenal wilayah abu-abu, buat mereka hitam ya hitam, putih ya putih.

20. Menyusun benda (atas/samping)

21. Sulit bersosialisasi

22. Umumnya tidak peka akan rasa sakit (terjepit pintu, kepala bocor, kaki kena knalpot, dll…tidak menangis dan berasa biasa saja)

23. Keterikatan pada benda (OBSESI)..Bola/ Tali, dll…

24. Hiperaktif dan tidak bisa diam. Apalagi kalo makan yang mengandung Gluten, Casein dan Gula

25. Semua Gluten dan Casein pada otak anak autis dirubah menjadi Glutheomorphin dan Caseomorphin yang efeknya 100 x lebih bahaya dari Morphine yang dikonsumsi orang dewasa

26. Kebalikan Hiperaktif, Hipoaktif diam dan tidak berminat melakukan apa-apa

27. Cara bermain yang aneh dan bisa dilakukan dalam waktu yang lama…bermain bola diputar bisa sampai 5 jam TENANG

28. Kadang bersikap sep

erti orang Tuli. Walau ada suara balon meletuspun mereka akan diam saja.

29. Pada Anak Autis yang remaja, masalah lebih pada tingkat Kontrol emosi dan sexualitas…. (lebih Dini dan lbih pada mereka menikmati sensasi tersebut)

30. Usia Puber pada Anak Autis lebih cepat. (ada yang 8 – 9 tahun mulai menginjak masa itu, aa yang lebih) Selesaikan masalah dasar sebelum menginjak masalah yg lebih lagi.

Autis


Autis adalah Gangguan Perkembangan Berat yang ditandai dengan gangguan pada area perkembangan yaitu keterlambatan dalam bidang kognitif (berpikir), bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Autis bukan Penyakit, Mereka berbeda :
1. Cara berpikir
2. Cara berkomunikasi
3. Cara pandang

Autis Bukan Olokan, ada banyak pengorbanan dan Air mata dibalik kata itu

Autis tidak menular Autis bukan kutukan.

Pahami mereka, Kenali Mereka dan Peduli mereka. Salam Peduli.

Sabtu, 02 November 2013

REMAJA DENGAN AUTISME
Ketika anak-anak autisme semakin BESAR 
OLEH : Agus Tri Haryanto – Wila Kertia.

Problem sekolah mungkin selesai tapi problem lain masih ada! 
Inilah yang sudah kita lewati :
• Rutinitas ke tempat terapi
• Menangani tantrum
• Menegakkan peraturan
• Membantu Pekerjaan Rumah
• Berbagai pengobatan biomedis
Jadi sekarang apa masalahnya ? Masih ada beberapa :
• Stagnansi (tidak ada kemajuan)
• Depresi tingkat rendah
• Obsessive Compulsive (terobsesi dengan satu hal terus menerus)
• Overweight (kelebihan berat badan)
• Kekakuan motorik atau sebaliknya lemas seperti karet

Ada yang tidak bisa ditutupi. Apakah itu ?
Problem pergaulan. Secara fisik memang sudah remaja, tetapi usia mental tetap saja seperti anak-anak. Kelemahan persepsi sosial mengakibatkan anak-anak terlihat menggebu-gebu dalam bertindak dan berpikir, sehingga akhirnya malah reaksi-reaksinya yang begitu menonjol. Hal ini membuat remaja autis ini tersingkir dan akhirnya kesepian.
8 cara untuk membantunya :
1. Mendorong perawatan diri agar tetap sehat dan bersih (healthy dan hygiene).
2. Berperilaku sopan.
3. Cara memberi peringatan tidak seperti kepada anak-anak lagi, melainkan lembut tetapi tegas.
4. Yang kurang kompeten bergaul, ikutkan dengan kelompok kecil (club) sesuai hobi dan minatnya.
5. Petunjuk-petunjuk khusus antara orang tua dan anak masih boleh dipakai
6. Tidak ada anak usia belasan tahun yang buta tentang SEX. Tangani dengan cara memberi informasi secara benar.
7. Ajarkan pertemanan atau berkencan dengan benar dan nyaman.
8. Sampaikan ide bahwa tidak semua keinginan harus didapat. Berikan cara berpikir kreatif untuk mencari cara lain.
Tambahkan dengan olah raga secara TERATUR, seperti : bersepeda, renang, badminton, fitness dll.

Pertanyaan Agustus 2013

Usia remaja adalah usia anak mengalami pubertas dimana pada diri mereka sudah mulai memunculkan beberapa perubahan terhadap tubuhnya mulai dari tumbuhnya rambut, suara yang berubah, hingga sampai pada hal-hal yang berhubungan dengan seksual misalnya : MIMPI BASAH, dan Ereksi. Namun pada remaja autis sangat berpengaruh besar akan perubahan-perubahan ini. Tanda-tanda yang mengawali adalah anak suka memegang alat kelaminnya sendiri.
Faktor hormonal membuat anak-anak autis sulit memahami perubahan perilaku seksualnya. Mereka tidak mengerti ketika bentuk badannya berubah, tumbuh rambut, mimpi basah. Perubahan bisa membuat anak mengamuk, bad mood sehingga uring-uringan dam bisa juga tantrum. Ketidakpahaman didukung pendidikan seks yang minim membuat perilaku anak menjadi masalah.
 Disini sangat perlu untuk pembekalan diri di dalam memberikan pendidikan seksual bagi ramaja autis kita, untuk mengurangi keinginan bermasturbasi, (pada remaja laki-laki)  karena saat anak sudah mulai nyaman dengan memegang alat kelaminnya, maka di sana terdapat sensasi tersendiri dan bahkan anak akan selalu mencari kenyamanan tersebut dengan bermasturbasi.
 Bagaimana menerangkan tentang bermasturbasi pada remaja laki-laki….
1.      1. Tugas seorang ayah untuk mendampingi anak remajanya laki-lakinya bertumbuh
2.      2. Mengenalkan seluruh anggota tubuh kembali dan perubahan-perubahan yang terjadi (bersama ayah di kamar mandi)
3.      3. Bantu dengan visualisasi Proses bermasturbasi
4.      4. Menjelaskan fungsi Penis (Visualisasikan-Konsistensi) dan juga larangannya
a.       Misalkan dilarang menyentuh penis kecuali saat sedang mandi atau pipis
b.      Yang boleh menyentuh adalah dokter bila sedang terasa sakit atau saat pemeriksaan.
c.       Jangan pegang Penis terlalu lama, bisa iritasi (visulisasikan) –bisa dengan foto atau dengan gambar)
d.      Jangan memegang Penis di tempat umum, Malu/orang akan melihat aneh
e.       Memberitahu anak agar menjaga kebersihan daerah pribadi, mengapa? Karena salah satu penyebab terjadinya masturbasi adalah ketika daerah pribadi dirasa gatal atau tidak nyaman.
apakah diperbolehkan untuk bermasturbasi ?
Kembali pada norma agama dan norma yang ada di masyarakat (bahwasannya hal tersebut masuk dalam rambu-rambu larangan)…Juga pada ketentuan dari tiap keluarga. Ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan. Namun ada beberapa yang harus kita pahami adalah :
·                     Saat anak ketangkap basah ber-Masturbasi, kalau memang perlu melakukan hal itu lakukanlah secara pribadi, terkunci dan jangan sampai dilihat oleh orang lain. Jadi tetap dilakukan pribadi dan ada aturan2/rambu2nya, setelah itu beri rambu-rambu kembali. TIDAK BOLEH
·                     Pernah dengar ada sehari 4 kali…Bagaimana biar tidak ketagihan? Andai itu diberikan lampu hijau atau diijinkan. itu karena kurangnya kegiatan di rumah, baik kegiatan fisik, dll.
·                     Beri kegiatan dan aktivitas pada anak. kurangnya kegiatan membuat anak jadi bosan dan hasrat itu timbul lebih natural. Jadi Memang harus ada kegiatan dan rambu2 tetap dipasang.
·                     Melarang anak melakukan Vulgar. Dan tetap menyampaikan TIDAK BOLEH. Kita mau jelaskan Panjang lebar mengapa tidak Boleh kepada anak juga kurang memungkinkan karena bahasa itu tidak tercerna. Dan yang penting anak tahu bahwa itu tidak boleh. Jadi dari awal secara Konseptual katakan “TIDAK”, kita tetap kembali ke Indonesia, apalagi kita berbicara secara agama itu sebetulnya TIDAK BOLEH. Orang tua harus hati2…secara teoritis boleh, tetapi di kamar..nah maka anak akan menangkap Boleh tetapi di kamar. Kalau tidak ya tidak, dan anak harus segera masuk kamar mandi tetapi bukan untuk melanjutkan tetapi untuk bersih diri. Ketegasan dan ekspresi Marah juga terkadang diperlukan oleh anak, Juga Konsistensi. Ingat bahasa anak2 susah mencerna dan harus benar2 bijak dalam memberikan pemahaman.

Pertanyaan Nov 2013

Pertanyaan :
Anak saya usia 10 tahun Down Syndrome tapi dalam hal komunikasi belum 2 arah, apa yang harus saya lakukan untuk melatih anak saya agar dapat berkomunikasi dan dapat madiri sendiri, dan bagaimana caranya untuk mengetahui bakat minat anak saya?
Jawaban :
 1. Sindrom down adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Down syndrom secara keseluruhannya mengalami keterbelakangan perkembangan dan kelemahan akal. Hambatannya adalah memiliki masalah lambat dalam semua aspek perkembangan yaitu Perkembangan motor kasar mereka lambat disebabkan otot-otot yang lembek tetapi mereka akhirnya berhasil  melakukan hampir semua pergerakan kasar bila diberi treatment, lambat untuk berjalan, perkembangan motor halus dan dan juga motorik oral yang termasuk di dalamnya bicara dan berkomunikasi.
2. Bagaimana melatih anak berkomunikasi ?
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di dalam melatih anak untuk berkomunikasi :
     A. Perilaku anak sudah cukub baik untuk siap belajar berkomunikasi.   Bahwa anak sudah cukup patuh dan juga melakukan kontak mata dengan baik. Mulai mengajarkan perilaku dasar, pemahaman, labeling, spontanitas hingga komunikasi.

PRASYARAT UNTUK MEMULAI BELAJAR BERBAHASA

Anak harus belajar banyak bahasa perilaku sebelum memulai berbicara. Perilaku – perilaku tersebut dibagi dalam:

1.      Kemampuan Dasar: meliputi mengajar anak untuk MELIHAT (Kontak mata), MENDENGAR dan MENIRUKAN (Mengcopy). Anak dikatakan  sudah dapat melakukan hal tsb, kalau dia mulai dapat mengerti apa yang dia dengar dan lihat, serta melakukannya , maka anak telah mengalami perkembangan bahasa reseptif.

2.      Dapat mengeluarkan suara-suara atau kata.


3.      Bahasa Reseptif: dapat melakukan beberapa jumlah ketrampilan yang berbeda.

Memahami bahasa dan memperhatikan , mis,menghentikan  aktifitas untuk melihat pada orang yang berbicara.

Mendengar, mis, menyadari bahwa apabila ada suara ketukan pintu ,ada seseorang yang ingin masuk.

Mengerti nama-nama orang,tempat dan benda-benda.

Dapat mengingat dan mengikuti perintah.

Ingatlah…………
Jangan menganggap anak mengerti semua yang dikatakan padanya.Walaupun jika, kelihatannya anak mengerti,  
mungkin saja dia menggunakan petunjuk-petunjuk lain (seperti ,isyarat tunjuk,nada suara, atau pandangan mata
yang menunjukkan apa yang anda maksud).

Komponen dari Bahasa Reseptif

Perhatian dan kerjasama

  1. Kontak mata : Imbalan adalah hal yang sangat penting untuk mengembangkan kontak mata.

    • Sebelum memasukkan aktifitas – aktifitas lain dalam kntak mata.Ambil tangan anak dan goyang .katakan padanya untuk melihat.Putarkan wajahnya menghadap ke anda.Puji dan beri imbalan ketika dia membuat kontak mata “Bagus!”.

    • Memasukkan kontak mata sebelum meminta anak melakukan berbagai aktifitas, mis, “Kamu mau bola? Lihat saya dulu. Lihat, ……Bagus. Bola! Ini buat kamu.”

    • Puppets, jack-in-the-box, mainan lain yang menarik . cari perhatian anak Goyang-goyangkan di depan anak. Puji dia untuk kontak mata.

    • Secara Visual – mendorong mobil – mobilan, menendang bola, memindahkan benda – benda yang disukai anak- bombing dia untuk melihat ketika benda bergerak.

  1. Kontrol Perilaku : Ketika berjanji dengan seorang anak yang tidak dapat berbicara dan tidak dapat mengerti , hal yang penting untuk memberi batas waktu sehingga anda dapat bereaksi pada saat itu untuk memberikan reward atau tidak memberi imbalan.

Salah satu teknik dalam mengatasi perilaku yang sulit adalah mengabaikan anak dan hanya memperhatikan dia ketika dia berhenti melakukan hal – hal yang diharapkan anda mencegahnya. Berilah dia reward berupa perhatian dan ketertarikan anda. Pengabaian tidak akan berguna apabila dilakukan tanpa reward.

Masing –masing anak mempunyai prosedur yang spesifik untuk ditangani secara tepat. Apapun prosedur itu di haruskan konsisten.

Perhatian

  • Permainan “Mulai”-  Ketika saya katakana “Mulai”
Ø  Letakkan sebuah bentuk di dalam sebuah kotak
Ø  Memarkir mobil
Ø  Perlahan – lahan tunda waktu ketika “mulai” dikatakan sehingga mempanjang kemampuan mendengar anak.

“ Suara apa tadi yang berbunyi ?” – Detak lonceng, derap kaki, bunyi bel , dll.

Item – item yang dapat mengeluarkan suara – kantongan plastic , mainan trompet ( berikan dua atau tiga iem saat itu ).Anak memilih objek yang dapat menghasilkan suara.

  • “ Dimana suara itu?” Pindah sumber suara ke bagian lain dari ruangan yang dapat di jangkau pendengaran anak .
  • Gunakan drums, cymbal, garpu dan gelas, dll …Bimbing anak untuk mengcopy urutan suara –suara atau sejumlah ada dari suatu subjek.

Pengertian

Melalui berbagai pengalaman dengan seseorang , anak belajar hubungan yang spesifik atau nama-nama objek , gerakan dan kejadian –kejadian sebagai interaksi.

§  Berbicara pada anak haruslah yang jelas , gunakan bahasa yang sederhana , pendek untuk menggambarkan gerakan seperti apa yang anda lakukan bersama anak. Mis, Rutinitas mandi sehari –hari – “ Waktunya mandi”, “Air”,”Sedang mandi”,” Gosok sabun “. Minta anak menggosok beberapa bagian tubuh yang berbeda. Bimbing anak .Setiap aktifitas yang dilakukan diberi nama, hal ini akan membantu.
§  Konsisten – gunakan kata-kata yang sama untuk orang , tempat dan benda – benda.
§  Label setiap objek yang diminta anak.
§  Tambahkan instruksi verbal anda dengan isyarat tubuh , maka anak akan lebih mudah untuk mengerti perkataan anda.

Minta anak untuk mengambil objek dari beberapa macam objek(2 sampai 3).

Minta anak untuk mengambil benda – benda ini, sepatunya , dll

Bermain “ ……..”
§  Berjalan
§  Berlari
§  Melompat
§  Tidur
§  Minum
§  Makan, dll

Berbicara

Ingatlah bahwa anak harus mempelajari dulu beberapa ketrampilan sebelum dia dapat memulai berbicara tentang apa yang dia lihat dan dengar. Di bawah ini adalah beberapa ide yang dapat di pakai untuk mengembangkan bahasa ekpresif tapi tidak terlalu banyak pemaksaan pada anak untuk berbicara. Hal ini dilakukan bila waktunya sudah tepat.

  • Bimbing anak untuk mengcopy suara anda selama bermain (mis, suara mobil, suara binatang , “sst (diam)”, desis ular)
  • Bermain menemukan benda-benda.
Masukkan 6 sampai 10 objek ke dalam tas yang mudah untuk mengeluarkan benda dan secara teratur bermainlah dengan permainan  “ menemukan “ labellah nama benda – benda tersebut.
  • Gunakan kesempatan sehari –hari untuk memodel suara – suara untuk meminta sebuah objek yang disukai. Mis, Kamu mau apa? ( gunakan bahasa yang sederhana)Bola?sini.Bola. Katakan “Bola”.
  • Bimbing anak untuk menggunakan kata –kata seperti “sudah” ketika sebuah objek selesai, dan “lagi” jika anak minta untuk meminta ulang sebuah kejadian/objek.

Beberapa ide ini hanyalah sebagai petunjuk bagaimana mengembangkan komunikasi anak.


REWARD
  • Jangan di obral
  • Tingkatkan level reward

JEDAH
  • Jangan terlalu lama atau sebaliknya (+ 5 detik) ini untuk di kelas formal
  • Fleksibel, sesuai kesepakatan terapis untuk diluas kelas (interaksi dengan orang lain)

     B. Ciptakan komunikasi dasar dengan spontanitas.
  
MENCIPTAKAN KOMUNIKASI

Objectif
1.            Meningkatkan keinginan anak untuk berkomunikasi
2.            Membuat komunikasi menyenangkan.
3.            menciptakan kekuatan dari komunikasi .
4.            Meningkatkan spontanitas penggunaan bahasa.
5.            Mengajarkan bicara yang tepat sesuai dengan keadaan.

Prosedur
Program ini untuk anak yang sudah mempunyai kemampuan untuk menggunakan kata-kata sederhana sebagai ekspresi keinginannya mendekati benar.Artikulasi tidak perlu tepat, tapi anda dapat membedakan variasi kata-kata yang anak ucapkan. Untuk anak yang bicaranya belum berkembang ke level ini,lebih baik buatkan program memilih dan komunikasi fungsional.
Aturlah situasi yang dapat memudahkan untuk anak membuat suatu permintaan.Prompt jika perlu dengan nonverbal (mis, mendekat ke muka anak atau melihat padanya dengan penuh harap). Kemudian kalau anak belum mengerti juga berikan sedikit prompt verbal,seperti “Saya mau …………” Jangan memberikan pertanyaan seperti “Kamu mau apa?” Jangan menanyakan pertanyaan apa yang dia inginkan. Berilah reaksi yang alami untuk memberi kesempatan anak mengemukakan keinginanya.

Prompt
Mulai dengan prompt penuh. Kurangi prompt menjadi body languge prompt.

Misalnya
1.                  Makanlah makanan yang sangat disukai atau main mainan yang disenangi di depan anak tanpa menawarkan              
            kepadanya.

§     Playdoh
§     Kue
§     Aktivitas

            Berikan sepotong kecil ketika dia meminta untuk memudahkan anak mengulang kembali hal tersebut.

2.         Berikan makanan yang tidak disukai atau sebuah karton pudding (agar anak protes)

3.         Nyalakan mainan kipas; matikan dan berikan pada anak.

4.         Buka botol bubbles,tiup bubbles , kemudian tutup botolnya dan berikan botol yang tertutup padanya.

5.         Katakan pada anak bahwa tugasnya sudah selesai, tapi jangan biarkan dia berdiri sampai dia mengatakan             “saya mau pergi”.

6.         Aturlah sebuah permainan , sembunyikan satu bagian penting (mis,dadu,dll), dan katakana “ayo main”.

7.         Buatlah sebuah social game (mis, melempar anak ke udara, menggelitik, dll) sampai anak kelihatan             menikmati, hentikan permainan dan tunggu.

8.         Tiup sebuah balon dan perlahan-lahan dikempiskan. Berikan balon kempes pada anak atau dekatkan balon             yang kemps itu ke mulut anda dan tunggu.
9.         Mulailah bersama-sama memasukkan puzzle. Setelah anakmemasukkan potongan-potongan puzzle berikan             dia sepotong yang tidak cocok.

10.       Pilihlah sebuah objek yang anak suka atau sebuah mainan yang mengeluarkan suara dan masukkan ke dalam             kotak dan tunggu.

11.       Aturlah anak untuk melukis ( mis, siapkan kertas cat dan kuas ,dll) dan berikan keanak tanpa memberikan air.

12.       Katakan pada anak dia boleh bermain keluar , tapi biarkan pintu terkunci.

13.       Ketika anak kelihatannya mau minum,berikan dia gelas kosong.

14.       Siapkan makanan tanpa sendok.

15.       Ajak anak mandi tapi di kamar mandi tidak ada air.

16.       Pegang sebuah buku dan lihat bersama tapi bukunya di balik.

17.       Letakkan mainan yang biasanya dipakai, letakkan ditempat yang salah.

18.       Nyanyikan lagu yang disukai dan berhenti sampai anak melengkapi sebuah kata baru kemudian dilanjutkan             nyanyinya.

19.       Jika anak ingin diangkat, pegang tangannya tapi jangan mengangkat dia sampai dia mengatakan “angkat” atau     yang mendekati kata itu.

20.       Letakkan anak di ayunan . Dorong sedikit .Kemudian pegang ayunan tunggu sampai anak mengatakan             “dorong” atau kata-kata yang hampir sama.


     C. Melatih Kemandirian
  Ajarkan untuk memulai segala kegitan anak dengan melakukan sendiri sesuai dengan kemampuan. latih mulai dari makan sendiri...memegang sendok sendiri dan menyuapkan ke dalam mulut sendiri, tentunya dengan kemampuan motorik halus yang sudah cukup baik. bagamana cara melipat pakaian, pakai kaos kaki, mencuci piring, menyapu, dll. gunakan atau tentukan step2nya atau target awalnya dari setiap pembelajaran. Misalnya mengajarkan anak makan sendiri...
Tahap I latih untuk memegang sendok terlebih dahulu.
Tahap II latih untuk kekuatan pegangan sendok dengan benda, sehingga memudahkan anak menyendok nasinya dengan porsi yang sesuai. Juga latih/bantu anak untuk memotong-motong lauk yang ada.
Tahap III latih dan bantu anak mengarahkan ke dalam mulutnya.
dll.
Beri reward ketika anak berhasil melakukannya. Perlahan demi perlahan tingkatkan targetnya. Lakukan juga untuk kemanirian yang lainnya, dan beri konsistensi dalam melakukan (latih setiap saat anak melakukan kegiatan makan dan usahakan bantuan seminimal mungkin).

5 Hal yang perlu diajarkan pada Para Spesial kita agar dapat mandiri :
1. Kebersihan diri
2. Mengenali makanan sehat
3. Mempelajari Norma dan Nilai Masyarakat
4. Sosialisasi
5. Pendidikan Kognitif
1. Kebersihan diri
Mandi sendiri, berpakaian sendiri, makan sendiri, kebersihan tubuh, cara menggososk gigi, cara menggosok badan dengan sabun, membilasnya dengan air, membersihkan telinga, memotong kuku, masuk rumah kaki harus bersih, menyapu, mencuci baju, mencuci piring, dll
2. Mengenali makanan sehat
Membedakan makanan cepat saji dan makanan dengan memasak sendiri, mengajari memasak, mencuci sayuran dan ikan, menanak nasi, perbanyak membaca buku tentunya sdh dengan pemahaman, visualkan, ajak ke pasar, memilih bahan yang segar, dll
3. Mempelajari Norma dan Nilai Masyarakat
Mengajari sopan santun dalam bertamu, membedakan kepemilikan (milik siapa, rumah siapa, benda siapa, dll) tata cara bertamu, pemahaman tentang menghargai, pembedaan anak kecil dan orang dewasa –> perlakuan yang tepat. cara berkendara, memahami peraturan lalu lintas dan rambu-rambu, pemahaman aturan-aturan tentang buang sampah, dilarang kencing sembarang tempat, Maaf dan memaafkan, Berdagang/jual beli, aturan di tempat2 seperti di rumah sakit, Bank, toko, kuburan, gereja,dll. Berbicara dengan suara pelan ketika berkomunikasi, berbicara dengan suara keras saat memanggil seseorang dr kejauhan, kepada siapa boleh membentak. dll
4. Sosialisasi
Mengetahui tentang pertanyaan sederhana, saling menyapa, belajar berkelompok, bermain berkelompok, Berbagi, percakapan saat sedang menunggu antrian, berkenalan, dll
5. Pendidikan Kognitif
Adalah pendidikan yang diberikan kasus per kasus berdasarkan topik. Misalnya ketika sedang naik pesawat, pada anak di berikan pembekalan  bagaimana proses naiknya, mengurus bagasi, menunjukkan tiket hingga sampai pada turunnya. Pembekalan kognitifnya adalah lewat pertanyaan seperti “Bagaimana seandainya saat mau naik pesawat tiket ketinggalan? Bagaimana seandainya bagasi hilang apa yang harus dilakukan? kemudian kembangkan dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya…

     D.  Bagaimana mengetahui bakat anak?
Cari tau lewat kesukaan anak pada bidang tertentu. misalnya musik/ pekerjaan rumah/ aktvitas menggambar/ menyanyi dll.
Bisa juga dengan sidik jari/ Finger print. Bila sudah dketahui bakatnya maka kembangkan bakat tersebut, untuk bekal kemandirian. 

SELALU ADA HARAPAN BAGI SETIAP ORANG YANG MAU BERUSAHA. BANGKIT DAN LAKUKAN BAGIAN KITA.