Kamis, 25 Februari 2016

Melengkapi angka

Melengkapi angka 
Tujuannya : 
1. Anak paham angka (melewati fase identifikasi/melabel angka, urutan angka).
2. Anak memahami konsep sebelum dan sesudah.
3. Anak memahami mengisi kolom yang kosong dengan urutan angkanya.
4. Sebagai dasar konsep penjumlahan dan pengurangan.
5. Spontanitas "Sudah" bila anak sudah menyelesaikannya.
6. Anak mampu mengerjakan dengan mandiri hingga selesai. 

Aktifitas sebelumnya :
1. Melabel angka 
2. Mengurutkan angka
3. Siap menulis, memegang pensil dengan benar
4. Paham instruksi
5. Mampu dalam kemampuan menghitung/membilang (hanya menyebutkan belum masuk konsep penjumlahan) 
6. Dot to dot (urutan angka dengan menarik garis)
7. Imla angka

Aktifitas sesudahnya : 
1. Konsep banyak sedikit, lebih besar lebih kecil
2. Menggambar sesuai jumlah
3. Konsep penjumlahan (hitung maju)
4. Konsep pengurangan (hitung mundur)

Melengkapi angka 
Tujuannya : 
1. Anak paham angka (melewati fase identifikasi/melabel angka, urutan angka).
2. Anak memahami konsep sebelum dan sesudah.
3. Anak memahami mengisi kolom yang kosong dengan urutan angkanya.
4. Sebagai dasar konsep penjumlahan dan pengurangan.
5. Spontanitas "Sudah" bila anak sudah menyelesaikannya.
6. Anak mampu mengerjakan dengan mandiri hingga selesai. 

Aktifitas sebelumnya :
1. Melabel angka 
2. Mengurutkan angka
3. Siap menulis, memegang pensil dengan benar
4. Paham instruksi
5. Mampu dalam kemampuan menghitung/membilang (hanya menyebutkan belum masuk konsep penjumlahan) 
6. Dot to dot (urutan angka dengan menarik garis)
7. Imla angka

Aktifitas sesudahnya : 
1. Konsep banyak sedikit, lebih besar lebih kecil
2. Menggambar sesuai jumlah
3. Konsep penjumlahan (hitung maju)
4. Konsep pengurangan (hitung mundur)

5. Imitasi 2-7 digit angka

Sabtu, 06 Februari 2016

Melepas anak di sekolah reguler tanpa Shadow.

Melepas anak di sekolah reguler tanpa Shadow memang agak susah, mengingat dalam tiap tumbuh kembangnya selalu ada masalah dalam kemampuan anak. Namun, bila orang tua mulai berani mencoba mengambil langkah ini, perlu dapat respon positif terutama di dalam mengambil keputusan. 
Langkah - langkah yang perlu dipersiapkan sebelum Shadow lepas dari anak adalah...
1. Shadow mencatat kelemahan anak di kelas, misalnya menjawab bersama-sama, atau maju ke depan mengumpulkan tugas, dll. Tujuannya dicatat untuk mengajarkan kembali dalam sessi terapi atau di rumah tentang kelemahan tersebut. 
2. Bekerjasama dengan guru dan mengajari guru untuk bagaimana tehnik-tehnik mengatasi anak dan kemudian melaporkan kelemahan-kelemahan anak untuk dilatihkan di rumah atau sessi terapi. 
3. Bila mulai melepas, jangan langsung dilepas begitu saja seandainya ada Shadow di dalam kelas sebelumnya. Namun Minggu demi Minggu dikurangi secara perlahan sampai tidak menggunakan Shadow sama sekali. 
Bila mulai melepas dari kesehariannya terapi menuju ke sekolah dan tanpa Shadow, hendaklah orang tua memberi masukan kepada guru mengenai kelemahan anak dan bagaimana mengatasinya. 
5. Orang tua menjalin komunikasi dengan teman-teman anak dan orang tua anak yang lain, jadi sebaiknya untuk awal-awal masuk orang tua bisa coba tuh kumpul-kumpul bersama orang tua yang lain di sekolah walau sekedar rumpi namun tujuannya untuk kepentingan anak. 
6. Mengalihkan kinerja Shadow kepada teman-temannya, supaya ketika anak mulai dilepas ada tenan-temannya yang peduli dan membantu kesulitan anak. 
7. Mengajari fokus atau tips mengatasi anak distraksi....dengan memberi latihan-latihan kepada anak seperti misalnya bagaimana anak tetap bisa belajar walau ada suara-suara lain. 
a. Latih dengan kemampuan kontak mata terlebih dahulu. Ajarkan belajar secara klasikal dan tidak di dalam ruangan seorang diri bersama dengan terapis. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk melatih kemampuan konsentrasi anak. Misalnya belajar sambil televisi menyala, atau belajar tapi banyak orang berlalu lalang, belajar dengan berbagai macam corak yang dilihat anak. Benda-benda tersebut jangan diberikan secara bersamaan, tetapi perlahan-lahan memasukkannya sampai anak tetap fokus dalam pelajarannya walau banyaknya orang yang lewat atau banyaknya lemari atau buku-buku di sekelilingnya. Tingkatkan kesulitannya. 
b. Latih dengan kemampuan di pendengaran, ketika belajar masukkan suara-suara musik pelan. Gunakan musik klasik dan tingkatkan jenis musiknya, bisa dengan musik lagu-lagu anak- anak, suara-suara orang berbicara, suara sepeda kotor lewat, suara gitar, maracas, dll. Apakah anak tetap bisa fokus di dalam belajarnya. Perkecil volume terlebih dahulu dan kemudian tingkatkan. 
c. Latihan berbicara atau menjawab serentak bisa dilakukan dengan : latihan bernyanyi..ketika anak bernyanyi coba ikuti, 
Libatkan juga anggota keluarga yang lain, beri pertanyaan dan ketika anak mulai menjawab coba papa atau mama, atau sepupu mengikuti juga. Cuek terhadap respon anak ketika anak mulai bingung. Tapi bila Responnya kuat misalnya hingga tantrum Karena merasa terganggu, berarti perkecil jumlah orang yang mengikuti kemudian tingkatkan. 
D. Latihan kemampuan memperhatikan : latih kontak mata jarak dekat hingga jarak jauh, untuk kemampuan melihat guru di depan dan juga mendengar guru di depan kelas. Juga memahami perintah sederhana. Beri tugas-tugas kecil seperti kumpulkan, maju ke depan, tugas kelompok, bagikan, dll. 
Latih Imla jarak dekat juga jarak jauh..untuk latihan mencongak nantinya. 

Latihan latihan kecil cukup membantu memberi fokus pada anak seperti : 
1. Lempar tangkap bola (atur jarak dekat ke jauh) 
2. Brain Gym
3. Mendrible bola dan beri tanda pada lantai
4. Menyulam sambil duduk di atas bola
5. Meronce sambil duduk di atas bola
6. Mendrible bola sambil bernyanyi
7. Melempar bola ke keranjang sambil mendengar musik 
8. Mewarna sambil menonton TV


Catat dan buat target PR untuk melatih kan tiap kemampuan perkembangan anak. Bila dirasa masih susah...tarik mundur. Hati-hati dengan ambisi...bentuk kemampuan anak dengan tujuan dan Goal, perlu proses dan bertahap, tidak ada yang instan. Rayakan bila berhasil...:)

Rabu, 18 Maret 2015

Batu Malang bocah Ferrari

Setiap ada pertemuan, selalu ada ilmu yang harus bisa diserap. Kali ini saya diberi kesempatan untuk bertemu keluarga hebat. Walau harus menempuh perjalanan ke Malang, tak menyurutkan hati saya untuk bertemu keluarga hebat ini yang juga jauh-jauh datang dari Bogor. Namanya BU Ade dari Bogor, ibu dari Kakak Radit si bocah Ferrari. Mengapa disebut demikian, karena kecintaannya pada alat transportasi, baik itu mobil dan motor.
Berangkat pukul 8 pagi menuju ke kota Batu Malang. Beberapa kali dalam perjalanan mobil yang saya tumpangi bersama suami dan anak saya ini terjebak dalam kemacetan lalu lintas karena ada kendaraan lain yang mogok di tengah dan juga sebuah truk yang muatannya terjatuh di jalan. Singkat waktu saya tiba di batu pukul 11.30 siang. Kami sekeluarga berhenti di sebuah depot untuk makan siang terlebih dahulu.
12.15 akhirnya saya bertemu dengan bocah Ferrari. Wow luar biasa...sapaan hangatnya, pelukan ramahnya saat kami berjumpa. Tatapan matanya sih tidak melihat untuk pertama kali, namun sapaan "hai" masih terngiang di telinga saya. Sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan dan rute di eco Green. Banyak yang saya dapat dari pertemuan hebat ini. Saya diajarkan akan konsistensi yang harus orang tua tetap berikan kepada anak mereka sendiri bila ingin anak mereka bertumbuh dengan keluarga yang peduli. Saya diajarkan tentang kedekatan seorang ayah kepada anak lelakinya...sederhana saja sih, layaknya seorang anak yang bermanja-manja pada orang tuanya dengan ketulusan, kedua orang tuanya bahkan adiknya memperhatikan kakak yang spesial ini. Saya diajarkan tentang kepercayaan, bahwa memberi kepercayaan kepada anak adalah hal yang terbesar bagi sang anak untuk mereka berjuang maju. Dengan memberi kepercayaan maka rasa percaya diri pada anak pun mulai terbentuk. Kakak radit seringkali hilang dari pandangan kedua orang tuanya, tetapi seiring dengan sering hilangnya maka sering pula dia menampakkan diri untuk kembali kepada kedua orang tuanya. Wowww, hal yang luar biasa. Saya diajarkan tentang ketulusan seorang adik
yang ikut andil dalam menjaga kakaknya yang spesial ini. Menjadi hebat, menjadi semangat walau mungkin di benaknya banyak pertanyaan-pertanyaan seiring dengan tumbuh kembangnya sebagai seorang adik. Namanya Icha....ketika kakaknya pergi agak jauh, maka si adik ini mengikutinya. Dan beberapa kali memanggil kakaknya supaya jangan jalan jauh-jauh. Berebut itu pasti, ketika mereka memakai kendaraan kecil yang disewa dalam perjalanannya mengikuti rute di Echo Green Park. Tapi kedua orang tua ini sudah punya strategi untuk bergantian satu dengan yang lain. Hehehe jam berlaku untuk proses bergantiannya.
Keluarga ini sangat menikmati liburannya, beberapa wahana kita ikuti, Bernice pun juga menjadi dekat dengan KAK Icha. Bermain bersama dan sangat menyenangkan.
Sayangnya waktu tak banyak untuk pertemuan ini, namun kami sangat bersyukur waktu yang singkat kami justru belajar banyak hal tentang pola pengasuhan. Bahwa semua kuncinya adalah kepercayaan dan dukungan orang tua dan keluarga untuk menjadikan pribadi anak spesial ini bertumbuh dan berkembang layaknya anak-anak pada umumnya. Penerimaan diri sepenuhnya dan total serta tidak menunjukkan rasa kuatir di depan anak ketika anak melakukan sesuatu, itu membuat kepercayaan diri anak meningkat, hehehe walau sebenarnya pikiran dan hati berkecamuk dan berperang untuk memfasilitasi anak.
Terima kasih buat keluarga BU Adhe Racha Sovyani yang sudah menambah ilmu buat kami dalam pola asuh tumbuh kembang anak dan penerimaan keluarga. Kiranya menjadi inspirasi bagi kebanyakan orang tua, bahwa terapis terbaik tetap orang tua.
Sampai jumpa di lain hari bila diizinkan kembali tuk bertemu. Love u All.

Riska Timothy

Hidupku untuk mereka

Namanya Ito....ketika aku menjumpai pertama pulang sekolah setelah turun dari mobilnya, segera dia lari dan kemudian melepas sepatunya dan tanpa memandangku sedikitpun dia meneruskan masuk ke dalam kamarnya untuk melompat di trampolin selama 10 menitan dan kemudian baru melepaskan baju seragamnya untuk segera berganti dengan baju rumahnya. Dan setelah itu kemudian meletakkan baju tersebut dalam keranjang baju kotor dan bergegas menuju ke meja makan sambil menunggu makanan yang dihidangkan. Tanpa sepatah kata pun dia hanya melihat ke kanan dan ke kiri lalu melihat piring yang masih kosong berharap makanan segera datang. Tak lama kemudian makanan datang dengan lahapnya menyantap makanan di hadapannya walau menu yang tersedia hanya nasi merah dengan ikan goreng serta sayur manisa kuah bawang putih saja. 
Selesai makan dan minum, dengan mandiri membawa piring ya ke belakang dan kemudian masuk ke kelas terapi, bermain otopet sebentar dan siap belajar. Bersama dengan terapisnya dia belajar dengan segala program yang diberikan. "Riska sementara kamu assisten saya ya" kata terapisnya. Saya siap. 
15 tahun yang lalu aku mulai belajar apa itu Autis, 15 tahun yang lalu Ito berusia 5 tahun dan kini sudah berusia 20 tahun, berbeda dengan dulu, sekarang Ito bertumbuh dewasa dan paham komunikasi, walau saya hanya 6bulan mendampinginya utk kemudian dipindah ke Centre lain dan belajar dengan banyak anak2 dari usia anak hingga remaja dan dengan keunikan masing-masing. 15 tahun lalu saya bertanya mengapa harus menyakiti diri sendiri, mengapa harus menyerang, mengapa harus melakukan kegiatan dengan diulang-ulang, mengapa harus menjajarkan sesuatu, mengapa harus melakukan hal yang sama, mengapa tidak mau ada perubahan, dan masih banyak tanya mengapa. Sekarang jawaban itu sudah ku dapatkan...mereka menjadi baik karena penanganan yang konsisten, mereka menjadi baik karena kontrol dari lingkungan, mereka jadi baik karena cinta dan sayang orang sekitarnya, mereka menjadi baik karena pengakuan, mereka menjadi baik karena kerjasama, mereka menjadi baik karena doa dan perjuangan. 15 tahun waktu yang masih singkat untukku belajar, karena masih banyak kata tanya dalam benak ku untukku tau jawabannya, karena tiap anak berbeda satu dengan yang lainnya. 
Dan didalam 15 tahun ini mengenal dan dekat mereka adalah anugerah luar biasa. Dipercaya untuk mengenal dan dekat dengan mereka, berproses bersama mereka, berjuang bersama mereka, dan berubah bersama mereka. 
Perubahan tidak ada yang instan, perubahan terjadi karena proses dan konsistensi. Perubahan karena hati. Terima kasih murid2ku...wow, ternyata kalian luar biasa ya, karena kalian aku mendapat pekerjaan, karena kalian aku menjadi pribadi yang sabar, karena kalian aku menjadi pribadi yang jujur, karena kalian aku menjadi pribadi yang tulus, karena kalian aku dibentuk dalam hidupku. Dan karena kalian aku masih harus terus belajar tentang itu semua. Terima kasih untuk tetap memotivasi ku. Terima kasih Tuhan, terima kasih anak-anakku. I love u All. 


Riska Timothy
#seumurhidupkuakukanberjalanbersamakalian. I love u. Autis awarness 

Sabtu, 24 Januari 2015

Shadow

Hari ini ngobrol dengan seorang guru yang pernah menjadi Shadow Teacher dari suatu sekolah. Rekomendasinya sekolah, namun ditawarkan ke orang tua...guru tersebut menjadi Shadow selama 3 tahun dengan benar2mendampingi anak. Kemana anak pergi disitu shadownya berada. Hasil ulangan, menulis, mengerjakan tugas semua dikerjakan oleh shadownya. Selama 3 tahun berjalan, namun anak bukan semakin mandiri, melainkan perkembangan tetap dan masih belum dianggap mampu mengerjakan tugas. Duduk kurang bisa bertahan lama, dan selalu berjalan-jalan kemana saja. Dengan bijak, akhirnya Shadow mengundurkan diri setelah di tahun ke 3, karena aktifitasnya hanya rutinitas tanpa perkembangan. Laporan ke orang tua juga standart sama di tahun pertama. Pihak sekolah cukup merasa terbantu, namun sejauh mana mereka juga bingung. Shadow sendiri tidak dibekali ilmu apa yang harus dilakukan, dan apa yang harus disampaikan sebagai suatu masalah. 
Nah kalau begini....apa yang mau dikejar, apa beda Shadow dengan babby sitar atau sopir yang mendampingi anak tiap harinya ? 
anak terapi namun kurang ada kesinambungan antara orang tua, Shadow, dan pihak sekolah. 

Tentang Shadow : 
1. Shadow adalah seorang terapis (orang tua atau profesional yang mengerti tumbuh kembang anak), tau struktur kemampuan anak. 
2. Shadow menjadi jembatan antara anak, guru dan orang tua dalam mencari masalah yang terjadi di kelas untuk kemudian dicari solusinya dalam sistem terapi. 
3. Shadow mencatat perkembangan anak tiap harinya dan wajib mempunyai Goal kemandirian anak saat memasuki jenjang sekolah. 
4. Shadow berhak memberikan informasi kondisi anak tiap harinya dan berbagi tugas dengan guru kelas untuk memantau perkembangan anak. Tugas guru tetap pada porsinya memberi aturan kepada semua siswa tanpa membedakan. Shadow menjembatani guru ke anak dengan menyederhanakan instruksi. 
5. Shadow juga berhak melaporkan hasil anak dengan jujur, bilamana dikerjakan sendiri atau setengah dibantu atau dibantu penuh dengan memberikan penjelasan pada setiap soal yang diberikan. 
6. Shadow melaporkan hasil akhir dengan laporan harian kepada orang tua, untuk dicarikan solusi baik di tempat terapi maupun di rumah, sehingga ada kesinambungan. 
7. Bila anak sudah mandiri, perlahan Shadow kurangi intensitas pendampingan kepada anak. Mulailah dengan duduk di kursi jarak jauh, atau saat anak berbaris atau bermain, dampingi jarak jauh. Bila tidak ada yang membahayakan, maka biarlah anak bermain dengan teman2nya. 
8. Shadow saat istirahat perannya lebih tinggi, karena menjadi jembatan anak juga kepada teman-temannya. Programkan apa yang harus anak lakukan...misalnya menyapa teman setiap pagi, Bila sudah mampu, tingkatkan membagi buku ke pada teman2nya. Apakah anak mengingat satu Persatu temannya, tingkatkan lagi dengan menawarkan bekal kepada teman-temannya dan lain-lain. Shadow berhak mengakrabkan diri dengan teman sekelas, lain kelas, dengan kakak kelas dan adik kelas, sehingga anak memiliki rasa sosial tinggi kepada teman-temannya, dan juga dapat menumbuhkan empati teman2nya ke anak. 
9. Shadow mencatat masalah anak misalnya : apakah anak sudah bisa maju ke depan dengan perintah untuk menyanyi? Bagaimana posisinya/berdirinya? Apakah berdirinya tegak, atau berdirinya bersandar pada guru ya/Shadow yang memegang? Apakah anak sudah mandiri mengumpulkan tugas ke depan, apakah anak sudah mandiri mengambil alat tulisnya ketika diberi perintah jarak jauh, apakah anak mampu berkomunikasi dengan menawarkan makanan saat makan di istirahatnya, bagaimanakah proses anak ketika berada di toilet? Apakah anak sudah bisa berbaris rapi, apakah anak mau menunggu, apakah anak mau dirolling tempat duduknya di tiap minggunya? Dan lain-lain. Itu adalah bentuk masalah yang harus diselesaikan pada jam-jam terapi.

Masih banyak lagi tugas Shadow di dalam atau di luar kelas dengan Goal kemandirian anak dalam masyarakat. Ingat Shadow bukan babby Sitter, namun memiliki kedudukan sebagai tema dalam tumbuh kembang anak. Dan fokus kepada sosialisasi dan bersikap dalam masyarakat. Bukan pada akademiknya. 
Semoga menjadikan pemahaman bagi orang tua, guru, masyarakat dalam memahami fungsi Shadow. 

Riska Timothy
Salam Peduli.

Rabu, 22 Oktober 2014

Autisme dipandang dari sudut medis

AUTISME DIPANDANG DARI SUDUT MEDIS
Oleh : dr. Melly Budhiman SpKj

AUTISME :
Gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak
Gejala sudah nampak sebelum umur 3 tahun

AUTISME :
Laki – laki : Perempuan = 4 : 1
Dapat terjadi pada siapa saja, tidak ada perbedaan suku, bangsa, status social-ekonomi, pendidikan
IQ : dari rendah sampai jenius

PREVALENSI :
1987 :1 : 5.000
1997 :1 : 500
2000 :1 : 150
2001 :1 : 138 (BERDASARKAN dan Conference Okt 2001 – Tambahan dari Red)

ISTILAH :
BLEULER
Autisma sebagai gejala dasar schizophrenia = hidup dalam dunia fantasinya sendiri
KANNER
Autisma infatil : hidup dalam dunianya sendiri

KAPAN GEJALA MULAI TAMPAK ?
Sejak bayi atau
Sudah berkembang relative normal
Setelah 3 tahun berhenti berkembang, mundur lalu timbul gejala autisme

GEJALA YANG TIMBUL
Gangguan perkembangan dalam bidang :
2.
Komunikasi
3.
Interaksi
4.
Perilaku
5.
Emosi
6.
Sensoris

GANGGUAN KOMUNIKASI
Terlambat bicara
Tak ada usaha untuk komunikasi non verbal dengan bahasa tubuh
Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti
Membeo (echolalia)
Tak memahami pembicaraan orang lain

GANGGUAN INTERAKSI
Tak mau menatap mata
Dipanggil tidak menengok
Tidak mau bermain dengan teman sebaya, lebih asyik main sendiri
Tidak ada empati

GANGGUAN PERILAKU
Cuek terhadap lingkungan
Asyik dengan dunianya sendiri





Semau – maunya, tidak mau diatur
Perilaku tidak terarah, mondar – mandir, lari – lari, manjat – manjat, berputar – putar, lompat – lompat, ngepak – ngepak tangan dan teriak – teriak
Agresif atau menyakiti diri sendiri
Melamun/bengong, terpukau pada benda berputar atau benda yang bergerak
Kelekatan terhadap benda tertentu
Perilaku yang ritualistik

GANGGUAN EMOSI
Tertawa, menangis, marah – marah sendiri tanpa sebab
Emosi tidak terkendali, temper tantrum bila tidak terkabul keinginannya
Rasa takut yang tidak wajar

GANGGUAN PERSEPSI SENSORIS
Menjilat-jilat benda
Mencium – cium benda
Menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu
Tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar
Sangat tahan terhadap rasa sakit

DIAGNOSIS AUTISMA
Didasarkan observasi klinis dan anamnesa yang teliti
Tidak memerlukan berbagai alat
Berbagai pemeriksaan (EEG, CT Scan, MRI) hanya atas indikasi
CARS, Psikotest hanya alat bantu diagnosis

KRITERIA DIAGNOSTIK
DSM – IV (APA – 1994)
ICD – 10

KERACUNAN DIAGNOSTIK
ADHD
KETERLAMBATAN BICARA
RETARDASI MENTAL
EPILEPSI

AUTISM – SPECTRUM
(GANGGUAN PERKEMBANGAN PERVASIF)
Autisme Infantil
Autisme Antipical
Sindrom Rett
Gangguan Disintegratis Masa Kanak
Gangguan Overaktif dengan Retardasi Mental disertai Gerak Stereotipik
Sindrom Asperger
Gangguan Perkembangan Pervasif YTT

PENYEBAB
Dahulu : Faktor psikologis Bruno Bettelheim : Teori Frigid Mother
Sekarang : Gangguan Neurobiologis pada Susunan Syaraf Pusat (SSP)








FAKTOR PENYEBAB
Gangguan pada Susunan Syaraf Pusat, disebabkan oleh
2.
Faktor genetik
3.
Gangguan pertumbuhan sel otak janin, infeksi virus, jamur, perdarahan, keracunan selama hamil muda
4.
Gangguan pencernaan
5.
Keracunan logam berat (Pb, Hg, Cad)
6.
Gangguan auto imunity

FAKTOR GENETIK
Mutasi genetik : penyebab multifaktor
Telah ditemukan lebih dari 7 gen yang berhubungan dengan autisme
Perlu beberapa gen untuk menimbulkan gejala autisme

GANGGUAN NEUROBIOLIGIS
Cerebellum
Lobus parietalis kiri/kanan
Lobus frontalis
Sistem limbic
Kerusakan pada myelin sel otak dan bagian dalam (endhotel) pembuluh darah otak
Gangguan neurotransmitter

GANGGUAN PENCERNAAN
Peradangan dari mucosa usus (autistic enterocolitis)
Leaky gut syndrome
Enzim pencernaan yang kurang
Terlalu banyak jamur dalam usus (yeast overgrowth)
Kekurangan enzim sehingga makanan tidak dicerna secara sempurna
Protein yang sulit dicerna :
1.
Casein (susu sapi/domba)
2.
Gluten (gandum)
Casein dan gluten : rangkaian 20 asam amino, seharusnya terpecah dengan sempurna
Peptide : 2 – 3 rantai asam amino yang diserap oleh darah dialirkan ke otak. Di otak menjadi casomorphin dan glutemorphin
 
YEAST OVERGROWTH
Pemberian Antibiotik yang terlalu sering :
1.
Membunuh bakteri komensal dalam usus, sehingga jamur berkembang biak berlebihan
2.
Merangsang pertumbuhan jamur

Infeksi Candida pada umur dini (bayi) bisa menyebabkan Candidiasis yang persisten
Gula, makanan yang tak tercerna, antibiotic, menyuburkan pertumbuhan jamur
Byproducts dari jamur mengacaukan metabolisme
Jamur menempel pada dinding usus dan enzyme pencernaan yang kurang membuat kerusakan pada dinding usus, sehingga usus berlubang (LEAKY GUT SYNDROM). Hal ini mengakibatkan peptide diserap masuk ke peredaran darah dan peptide masuk ke otak

KERACUNAN LOGAM BERAT (TOXIC MINERALS)
LOGAM BERAT : Hg, Pb, Cad, As dan Ai






Tanpa sengaja masuk ke dalam tubuh manusia melalui :
1.
Udara
2.
Air
3.
Obat
4.
Vaksinasi
5.
Tambalan gigi

KERACUNAN Hg (air raksa/mercury)
Tambalan gigi (amalgam) terdiri dari 50% silver dan 50% merkuri
Vaksin mengandung thimerosal (ethyl mercury)
Kosmetika : pemutih kulit
Salep anti – jamur
Obat tetes mata

KERACUNAN Hg
Hg sangat Neurotoksin karena merusak sel-sel otak dan dapat mengakibatkan timbulnya gejala – gejala autisme
Hg dapat menyebabkan mutasi genetik
Hg dapat menyebabkan immunodeficiency (berkurangnya kekebalan tubuh)

PEMERIKSAAN YANG DIBUTUHKAN
Darah, urine dan feaces untuk mengetahui :
2.
Gangguan pencernaan
3.
Jamur/parasit/bakteri di dalam usus
4.
Alergi makanan
5.
Peptide/morphin di dalam urine
6.
Kelainan genetik
7.
Kerusakan sel dan pembuluh darah otak
8.
Auto imunitas
9.
Mineral dan logam berat di dalam darah
Hair Mineral Analysis : mineral dan logam berat (Pb, Cad, Hg, As, Ai)

PENANGANAN SECARA MEDIS
Semua hal yang ditemukan pada pemeriksaan laboratorium harus ditangani secara intensif
Menyembuhkan penyebab fisik yang mempengaruhi fungsi Susunan Syaraf Pusat (SSP) seringkali bisa mengurangi/menghilangkan gejala autisme

KESIMPULAN
Autime Masa Kanak adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks
Prevalensi masih sedang meningkat dengan pesat
Timbulnya gejala seringkali dicetuskan oleh penyebab organ biologis
Para professional harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, supaya dapat bekerja sama melakukan pengobatan yang tepat dan terpadu

DIAMBIL DARI MAKALAH SEMINAR 16 Juni 2001


Jumat, 10 Oktober 2014

Pendidikan sexual pada penyandang autis

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita di salah satu surat kabar Jawa pos. Kamis, 9 Oktober 2014. Pada berita tersebut mengatakan ada seorang remaja Autis telah disodomi oleh seorang pria berusia 41 tahun di Kota Pasuruan. Kejadian tersebut berlangsung pada hari Selasa 7 September pukul 20.00. Singkat cerita pria tersebut mengaku bahwa sudah lama tidak merasakan hubungan suami istri, sehingga akhirnya tega menyodomi remaja autis tersebut. 
Ini adalah salah satu kasus yang sering terjadi di antara sekian anak dan remaja Autis. 
Ada beberapa hal yang membuat kasus ini terjadi di antaranya :
1. Para penyandang autis adalah orang yang kepatuhannya sangat bagus. Karena Pembentukan kepatuhan ini sejak kecil sudah menjadi bekal disaat anak menjalani proses terapi. 
2. Orang tua kurang membekali masa remaja anak di dalam pendidikan seksualnya sejak dini
3. Masyarakat belum memahami dan justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan mereka masing-masing. 

Pendidikan seksual kepada para anak berkebutuhan khusus sangatlah penting. Untuk memberikan pembekalan di masa depan mereka, di masa remaja hingga dewasa. Mengingat masyarakat juga beragam. Pembekalan pendidikan seksual harus dimulai sejak dini. Sejak usia 3 tahun sudah harus dibekalkan kepada mereka dan sesuai dengan tingkatan dan perkembangan usia. 

Hal-hal yang perlu kita bekal kan sejak dini adalah : 
1. Pisahkan tempat tidur Anak dengan orang tua. Jangan sekamar. 
2. Saat anak BAB/BAK mulai kenalkan harus di dalam toilet, sesuai dengan jenis kelaminnya. Demikian juga dengan pendampingan anak laki-laki dengan ayahnya dan anak perempuan dengan ibunya. 
3. Boleh cium saat-saat tertentu. Pada saat pagi hari atau saat menjelang tidur. 
4. Persiapkan gambar visualisasi dan perkenalkan sejak dini untuk mimpi basah pada anak laki-laki, untuk anak perempuan kenalkan bikini atau pakaian renang. Itu adalah area yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Kecuali dokter dan itu juga didampingi oleh orang tua. 
5. Pemahaman akan fungsi-fungsi setiap anggota tubuh. (Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tanpa terkecuali pada bagian-bagian vital). Demikian juga dengan labeling nya, kenalkan dan paham kan dengan benar sesuai dengan bahasa kedokteran pada laki-laki PENIS bukan *burung*, atau VAGINA bukan *bebek* pada perempuan. 
6. Beri pemahaman akan rasa malu. Definisinya luas, paham kan yang mudah terlebih dahulu bahwa malu adalah saat telanjang tidak pakai baju keluar kamar mandi atau kamar. Kemudian tingkatkan pemahaman tersebut dengan malu lebih luas, misalnya malu saat teriak di tempat umum, malu saat menggaruk penis atau vagina di tempat umum. 
7. Latih dan visualisasi kan urutan mandi di dalam kamar mandi, mulai dari kegiatan lepas baju, mandi, sampai pakai baju kembali semua dilakukan di kamar mandi. 
8. Berganti pakaian harus di kamar mandi atau di kamar pribadi anak. 
9. Kenalkan dan paham kan anak pada orang yang dikenal, orang terdekat dan orang tidak dikenal. Fungsi dan peran mereka terhadap diri anak. Misalkan orang tua fungsi nya menjaga, mendidik, merawat anak, jadi terhadap orang tua anak harus hormat, taat sesuai firman Tuhan. teman-teman fungsinya bekerja sama dengan anak dalam hubungan sosialisasi, teman untuk bisa saling berbagi. Terhadap teman anak bisa menolak bila teman sedang meminta anak untuk melakukan hal-hal yang negatif, misalnya mencuri, atau memegang payudara teman lain, dan lain sebagainya. Orang tak dikenal, adalah orang sekitar. Ajarkan kepada anak apa yang harus anak lakukan terhadap orang tidak dikenal, ajarkan tentang etika dan cara bersikap. Tetap bekal kan pada anak berteriak untuk keadaan yang tepat. Misal anak dapat perlakuan negatif dari masyarakat, maka anak akan marah dan berteriak, tidak ada salahnya untuk sering-sering berbuat usil pada anak, karena bila kita usil pada anak, anak kita latih apa yang harus dilakukannya. Sehingga bila orang lain memperlakukan demikian, anak sudah tau bagaimana tindakannya. 
10. Bekali anak dengan visualisasi lingkaran sosial. 


Lingkaran pertama nama anak.
Lingkaran ke 2 nama anggota keluarga yaitu ayah, ibu, kakak, adik. anggota keluarga ini boleh mencium pipi anak, memeluk, dimandikan saat sakit, tidur di tempat tidur berama-sama, menyentuh bahu, menggandeng, minta uang, dll. yang tidak boleh dilakukan anak adalah : mencubit pantat, menyentuh alat kelamin sendiri, atau menyentuh payudara
sendiri atau orang lain, menyentuh kepala ayah dan ibu, buang air tanpa menutup pintu kamar mandi, masuk kamar tanpa mengetuk pintu, membentak, dll.
Lingkaran ke 3 adalah anggota keluarga yang terdekat seperti kakek, nenek, sepupu, paman, bibi. Yang boleh dilakukan adalah kepada anak adalah : mencium pipi, memeluk, menggandeng, bersalaman, minta tolong, menyentuh bahu, dll. yng tidak boleh dilakukan oleh anak sama seperti lingkaran ke 2 dan ditambah tidak boleh meminjam uang.
lingkaran ke 4 meliputi teman di sekolah, guru kelas dan trapi, pembantu, tetangga, tukng kebun, dl. Yang boleh dilakukan pada anak adalah bersalaman, menyentuh bahu, menggandeng, minta pertolongan. yang tidak boleh dilakukan anak sama dengan lingkaran ke 2 dan ke 3 ditambah tidak boleh mencium pipi.
Lingkaran terakhir adalah lingkaran yang terluar dan berisi orang-orang tak dikenal atau orang asing. pahamkan pada anak orang asing ini ada 2 kelompok yaitu orang yang jahat dan yang baik. misalnya dokter, polisi, satpam, penjaga toko, dll. yang baik adalah orang yang kita hubungi saat kita membutuhkn pertolongan atau pada saat kita berada dalam bahaya. sedangkan oarng asing yang jahat adalah orang-orang yang tidak dikenalkan pada anak. misalnya orang yang lalu lalang di jalan, anak-anak muda yang bergerombol di luar.  dengan adanya lingkaran sosial ini maka diharapkan kita dapat mengajarkan etika sopan santun baik di rumah maupun di luar rumah kepada anak dan anak dapat memahami secara visual sehingga mempermudah anak dalam mengingat bagaimana seharusnya anak bersikap di masyarakat umum. sebagai catatan tetap sesuaikan dengan kehidupan anak.