Minggu, 10 Juni 2012

Autisme Dan Penaganannya




Autisme dan Penanganannya

Bila ada 3-4 dalam ciri-ciri perkembangan anak terdapat di dalam ciri-ciri anak Autis maka segeralah berkonsultasi pada ahlinya. Dokter tumbuh kembang Þ Dokter anak masih beberapa dokter saja yang mendalaminya, jangan mengabaikan tanda-tanda. Nah di bawa ke dokter untuk dianogsa awal serta apa saja yang harus orang tua lakukan, apakah membutuhkan terapi di dalam penanganannya. Apakah anak perlu melakukan tes-tes untuk mengetahui prosentase keautistikannya. Kadar logam berat di dalam tubuhnya. Apa perlu dilakukuan diet dll. Syukur-syukur mendapat diagnosis secara dini (2-3 tahun) sehingga untuk tingkat keberhasilannya akan segera tampak bila dilakukan terapi sedini mungkin karena usia balita, batita, dan baduta dikenal sebagai ”The Golden Periode”.
Jadi bila anak anda di diagnosa sebagai autis, satu-satunya langkah terbaik adalah menerimanya dengan tulus dan tindakan berikutnya melaksanakan terapi secepat mungkin.
JANGAN DITUNDA-TUNDA.

Jadi mari kita laksanakan hal-hal sebagai berikut :
  • Amati dengan seksama perilaku buah hati kita sejak dini.
  • Bila ada sedikit saja kecurigaan atas keanehan dalam pola perkembangan mereka secepatnya konsultasikan ke ahlinya → dokter tumbuh kembang, psikiater.
  • Percayakan penentuan diagnosis pada profesional.
  • Bila didiagnosis sbg autisme, terima dengan bijak.
  • Laksanakan program terapi sedini mungkin.

Jadi andaikata diagnosa sudah diterima persoalan belum terselesaikan bagaimana dengan pasangan (suami/istri) anda? Bagaimana pula dengan keluarga besar anda? orang tua anda, atau mertua anda?
Telah siapkah beliau dengan semua ”Vonis” oleh psikiaternya? Dengan demikian mereka bisa mendukung program terapi yang anda rencanakan secara terpadu.

            Biasanya faktor penerimaan inilah yang menghambat perkembangan mereka, dari faktor penerimaan akan berlanjut pada faktor keputusan akan langkah-langkah yang diambil. Namun biasanya yang terjadi adalah mengulur waktu nanti dulu, nanti dulu....hingga usia usia semakin bertambah & masalah semakin bertambah pula.
Jadi pada umumnya penerimaan demikian tidak semudah membalik telapak tangan. Rata-rata banyak menolaknya dengan berbagai bentuk, macam-macam argumentasi antara lain  nanti pasti bisa dengan sendirinya, tunggu waktu, jangan percaya satu sumber saja, cari sumber yang lain dll.
Nah, kalau begini yang ada waktu terbuang, uang terbuang, tenaga terbuang hanya untuk mencari jawaban bahwa diagnosa tersebut salah.
Sebelum kita menginginkan keluarga & anak kita berubah maka kita harus berubah terlebih dahulu.

Ada 4 perubahan yang perlu kita lakukan :

1.      Merubah Paradigma (mind-set)

Paradigma lama dirubah menjadi paradigma baru. kalau di paradigma lama : Autisme itu autis tidak bisa komunikasi sama sekali. Autis itu gila atau kutukan sekarang rubah paradigma lama menjadi baru bahwa Autis adalah gangguan perkembangan sejak lahir, Autis bukan gila ataupun kutukan, mereka mampu berkomunikasi, bersosialisasi & lain-lain untuk secara wajar.
            Dengan paradigma baru orang tua ¹ akan terbebani oleh mitos-mitos yang menyesatkan tentang autisme. Dan bila kali ini kebetulan salah satu keluarga anda penyandang Autis, mengapa harus disembunyikan segera lakukan terapi dini, intensif maka anak Autis bisa jadi seperti anak lain tanpa ada ’bekas’ saat besar nanti.

2.      Mengubah Keyakinan

Setelah memiliki paradigma baru, kita harus memiliki keyakinan kuat.
·         Yakin bahwa Anak Autis memang perlu terapi
·         Yakin bahwa orang tua punya peran yang menentukan dalam pelaksanaan program terapi. Orang tua terlibat dalam pelaksanaan terapi, sangat menentukan keberhasilan terapi anak
Caranya adalah selalu berpikir positif dan serahkan kepada Tuhan agar kita di mampukan.

3.      Mengubah Tindakan

Tiba saatnya orang tua berbuat nyata. Paradigma baru, keyakinan baru sudah dimiliki. Sekarang adalah mengubah tindakan. LAKSANAKAN SEGERA PROGRAM TERAPI ANAK.

Ada 2 tindakan yang harus orang tua tempuh :
·         Menetapkan lembaga terapi bagi anak. Hak orang tua menentukan kemana anak akan dipercayakan. Þ Terapi apa diberikan
Þ Kelas yang ideal
Þ Metodenya
Þ Program nya sistematis, terstruktur & terukur
Þ Apakah Ortu dilibatkan untuk pengembangan di rumah

·         Tindakan melaksanakan program terapi di rumah, meneruskan terapi dari centernya.
Þ Bisa minta pelatihan supaya dapat melakukan sendiri di rumah.
Orang tua adalah Terapis terbaik anak, dengan memiliki keyakinan kuat maka akan lebih memahami bahwa Terapi penting bagi masa depan anak-anak Autis.

4.      Mengubah Lingkungan

1 Hal yang tidak boleh kita lupakan yakni besarnya pengaruh lingkungan bagi kita. Paradigma, keyakinan maupun tindakan bias saja berubah lingkungan mengalami perubahan.
            Contoh : orang surabaya pindah ke jakarta → logat, gaya, hidup, pola pikir ikut berubah.

Oleh karena itu lingkungan juga sangat penting. Untuk menjaga konsistensi dalam pelaksanaan terapi perlu dibangun lingkungannya terlebih dahulu mulai dari keluarga dengan menyamakan visi. Kemudian bila belum terbangun mulai mencoba bangun lingkungan luar dengan sesama siswa terapi kemudian secara bertahap kembangkan komunitas dengan orang tua-orang tua lain dari berbagai lembaga terapi lalu bisa kopdar (kopi darat) atau datang di acara PSG. Untuk saling bertukar informasi, maupun sharing. Karena lingkungan yang satu visi akan memiliki energi dahsyat untuk membuat kita tetap setia pada tujuan akhir.

Perubahan-perubahan kita baik paradigma, keyakinan, tindakan, lingkungan akan membawa perubahan terhadap keluarga tentunya juga pada anak-anak spesial kita. Tentumya perubahan disini adalah perubahan yang positif dalam mendidik anak spesial. Tentunya juga diserahkan pada TUHAN, dan selalu yakin bahwa rencana TUHAN indah pada waktunya.
Kemudian bila semua telah siap maka mulailah menjalani terapi-terapi.
Apa dan bagaimana terapi-terapi tersebut?

1.      TERAPI BIOMEDIK
Terapi ini menggunakan bantuan obat-obatan untuk mengontrol gejala autisme. Di dalam terapi biomedis, yaitu memperbaiki metabolisme tubuh anak. Untuk menjalankan terapi biomedis terlebih dahulu anak menjalani tes diagnostik di laboraturium khusus yang ada di Amerika. Caranya dengan mengirim contoh rambut, feses, darah & urine.
Tujuan di pemeriksaan :
·         Untuk feses tujuan mengungkap adanya jamur, bakteri, gangguan pencernaan, serta keadaan dinding ususnya.
·         Pemeriksaan urine bertujuan mengukur banyaknya peptida di dalam urine. Peptida berasal dari casein (protein dari susu sapi & domba) & gluten (protein dari gandum-ganduman)
·         Pemeriksaan darah dilakukan lengkap yaitu fungsi hati, ginjal, alergi makanan, sistem kekebalan tubuh, dan juga logam beratdi dalam darah.
·         Pemeriksaan rambut bertujuan mengtahui kandungan berbagai macam mineral & logam dalam tubuh.

Biasanya hasil tes lab diketahui dalam waktu 1 bulan. Kasil tes inilah yang akan dianalisis dokter di Indonesia. Selanjutnya, berdasarkan hasil tes, dokter akan memendu penerapan terapi biomedis tahap demi tahap.

Hal yang harus diperhatikan adalah jangan sembarangan memberi terapi obat-obatan pada anak-anak autis. Jadi harus dipahami benar obat " food suplement dan sesuaikan dengan kebutuhan anak. Ini karena obat dan food suplement terbuat dari zat kimia. Pemakaian yang tidak tepat, selain tidak efisien juga brebahaya bagi tubuh. Dari terapi Biomedik ini maka akan di cobakan pada anak & dilaksanakan dengan cermat baik dalam Diet CFGFSF, pemberian food suplement maupun obat yang diresepkan dokter.

            Tahap demi tahap dilakukan mulai dari Diet CFGFSF (casein free), (gluten free), (sugar free). Anak Autis di duga mengalami kelebihan OPLOID dalam tubuhnya. Oploid berkumpul di otak, bereaksi &berfungsi seperti morfin (Gluteo morphin & Caseo morphin) sehinnga mengacaukan otak anak. Anak tidak bisa diam, Hiperaktif. Susah tidur, gerak susah dikontrol, suka marah berlebih / tettawa berlebih.
            (next akan dibahas sendiri mengenai DIET & mengapa harus diet). Food diary, Alergi, dll.

2.      TERAPI OKUPASI
Terapi yang berguna untuk melatih otot-otot halus anak. Menurut penelitian, hampir semua kasus anak Autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Mereka kesulitan untuk memegang sendok, dan menyuap makanan ke mulutnya. Sulit membuat dari plastisin. Dengan terapi ini anak akan dilatih untuk membuat semau otot dalam tubuhnya berfungsi tepat.
Jadi aktifitas di dalamnya seperti menyulam, mencocok, mewarna, meronce, belajar memegang sendok, memakai baju & celana sendiri, mengancingkan baju, melipat baju, dll. Diharapkan dalam beberapa kali latihan dan dilakukan terus menerus mak targetnya adalah anak mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.

3.      TERAPI SENSORI INTEGRASI
SI yaitu kemampuan untuk mengolah & mengartikan seluruh rangsang sensori yang
diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respon yang terarah. Terapi ini di berikan untuk anak yang terlalu kuat / lemah pada fungsi sensori.
            misalnya : Anak takut ketinggian
                             (dingklik 5 cm tingginya sudah takut)
                                                VS
                             Anak tidak takut ketinggian
                            (rumah bertingkat 3 anak tidak takut)
contoh lain tentang kepekaan di sensori
·         Anak tidak suka di sentuh / di peluk
·         Anak tidak suka mendengar suara blender
·         Anak tidak suka di tengah keramaian
·         Anak tidak suka basah (basah sedikit minta ganti baju)
·         Anak tidak suka label ? logo di belakang baju
·         Anak tidak suka bermain pasir

Terapi sensori ini diberikan jika anak mengalami masalah dengan daya sensorik karena alat-alat indera, serabut saraf, dan jaringan sarafnya mengalami gangguan sehingga penyampain  informasi ke otak tidak sempurna. Selain itu untuk memberi stimulus (rangsangan), vestibuler (keseimbangan), proprioseptif (gerak, tekan, & posisi sendi otot), taktil (raba), auditori (pendengaran) dan visual (penglihatan). Terapi ini di berikan sesuai kebutuhan individual anak dalam terapi di usahakan anak memberi reaksi yang baik dalam terhadap stimulus. Sedikit demi sedikit  anak diberi aktivitas yang lebih sulit agar dapat mengembangkan proses pengolahan informasi sensorik lebih baik.

4.      TERAPI BERMAIN
Bermain merupakan kegiatan spontan anak. Oleh karena itu, bermain memberi peluang berkembang tanpa aturan ketat.
Jadi terapi ini di berikan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Dengan bermain dapat mencapai  perkembangan fisik, intelektual, emosi dan sosial. Selian itu juga dapt melatih kekuatan, keseimbangan & melatih motoriknya. Diharapkan dalam terapi bermain ini spontanitas anak bisa muncul dalam bentuk peilaku & komunikasi, Verbal maupun non verbal.
Menimbulkan rasa ingin tahu, keinginan untuk bergabung dalam kelompok, dll.
Contoh macam-macam terapi bermain :
            Berjalan pada seuntas tali, lempar tangkap bola, bermain puzzle, balok, lego, dll.

5.      TERAPI WICARA
Hampir semua anak dengan Autisme mempunyai kesulitan dalam bicara & berbahas. Bicar bisa berkembang, namun tidak mampu untuk memakai kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi / berinteraksi dengan orang lain. untuk mendapatkan hasil yang optimal lebih dilakukan bersama-sama dengan metode ABA (Applied Behavior Analysis) / metode Lovaas sebagai dasar bagi materi yang akan di berikan.
            Di dalam Terapi Wicara diajarkan :
Artikulasi, latihan motorik oral untuk menunjang motorik organ bicara. Bahasa (phonology / phonasi, semantic-kata, syntax (kalimat + tata bahasa), dll). Pendengaran (apakah membutuhkan alat bantu), Suara (mengajarkan nada, intensitas, ketukan, keras lembutnya suara, dll)
Untuk ABA → lebih condong ke arah komunikasi dan spontanitas ke struktur bagaiman cara berkomunikasi.

6.      TERAPI MUSIK
Terapi musik menurut American Music Therapy Association 2002) adalah terapi yang menggunakan musik yang bersifat terapiotik guna meningkatkan fungsi perilaku, sosial, psikologis, komunikasi, fisik, sensorik motorik & kognitif.
Dengan musik maka akan memancing & mempertahankan atensi / perhatian dan juga dapat merangsang serta memanfaatkan bagian–bagian otak, merupakan sarana pengingat yang efektif, membuka jalan pada memori & emosi. Bagi anak Autis musik ini penting untuk meningkatkan kesadaran akan dirinya, memusatkan perhatian, mengurangi perilaku yang negatif yang tidak diharapkan, membuka komunikasi, dll.
Terapi musik ini dilakukan dengan mengajak anak secara rutin meluangkan waktunya dan memperkenalkan pada anak bermacam-macam, alat musik. Bisa dengan mendengarkan musik-musik tertentu dalam latihan emosi → mozzart (untuk relaksasi), chophin (untuk memulai aktifitas), lagu anak-anak (saat bermain), suara kicauan burung, suara tari kecak, suara gamelan, suara musik sunda, dll.

7.      TERAPI PENDEKATAN
Pendekatan Floor time, Son-Rise, RDI (Relationship Developmental Intervention).
Floor time → dilakukan oleh orang tua untuk membantu melakuakn interaksi & kemampuan
                        bicara .
                        Contohnya saat anak sedang stimulasi mengepak-ngepakkan tangan orang tua
                        coba mengikuti gerakannya lalu kemudian langkah selanjutnya orang tua
                        membuat gerakan supaya diikuti anak. bisa juga dengan kata &bahasa dalam
                        permaianan.
Son-rise &RDI adalah pendekatan terapi untuk mempelajari minat anak, kekuatannya & tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemamapuan sosial, emosional dan intelektual.
Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik yaitu meliputi konsep dasar sebelum komunikasi yaitu kepatuhan, kontak mata, pemahaman hingga komunikasi 2 arah.

8.      BRAIN GYM (SENAM OTAK)
Senam Otak (Brain Gym) ditemukan oelh Paul E. Dennison dan istrinya Gail E. Dennison  sebagai bagian dari Educational Kinesiology yang berarti menarik keluar potensi yang terpendam melalui gerakan tubuh.
Metode ini diciptakan untuk menolong para pelajar agar dapat memanfaatkan seluruh potensi belajar alamiah yang terpendam melalui gerakan tubuh dan sentuhan. Gerakan-gerakan dalam senam otak bisa membantu mengkoordinasikan tubuh dan otak, juga membantu memudahkan kegiatan belajar dan mengatasi gangguan-gangguan belajar pada anak. Dengan bergerak membuka bagian-bagian otak yang sebelimnya tertutup atau terhambat sehingga seluruh kegiatana belajar dan bekerja berlangsung dengan menggunakan seluruh otak.
Senam Otak merupakan aktivitas yang sederhana dengan manfaat yang luar biasa. Senam Otak  baik untuk anak-anak, dewasa dan lanjut usia karena dapat mengurangi resiko Stroke dan kepikunan. Senam otak ini diakui sebagai salah satu tehnik belajar terbaik versi ”National Learning Foundation USA” dan praktiknya telah menyebar ke seluruh dunia. Sebelum melakukan kegiatan belajar atau bekerja maka di beberapa negara maju melakukan kegiatan Brain Gym ini untuk menunjang aktifitas mereka. Bagaimana dengan Indonesia? Sudah mulai dikenal di kota2 terbesar  seperti Menado, Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota yang lain.

Senam otak dapat mengoptimalkan :
·         fungsi kinerja panca-indera (mata juling, gerakan tubuh teratur antara kanan dan kiri, mengatur napas, mendengar jauh dekat/kepekaan telinga, merasakan saat sakit (tersandung, sakit tubuh, dll)
·         menjaga kelenturan dan keseimbangan tubuh,
·         meningkatkan daya ingat,
·         meningkatkan ketajaman pendengaran dan penglihatan,
·         mengurangi kesalahan membaca atau menulis terbalik-balik,
·         melatih memori

Tujuan yang lain dari senam Otak ini adalah :
·         Dapat belajar dengan nyaman tanpa stress, rileks dan tenang
·         Meningkatkan kepercayaan diri anak
·         Lebih berkonsentrasi
·         Prestasi belajar meningkat
·         Kemampuan bahasa dan daya ingat meningkat
·         Mengontrol emosi
·         Waktu yang dibutuhkan singkat (7-10 menit), sehingga tidak akan mengganggu proses belajar

Senam Otak ini sekarang jugan sdh banyak digunakan untuk terapi beberapa gangguan pada anak-anak berkebutuhan khusus seperti :
·         Hiperaktif,
·         Gangguan emosional,
·         Lambat Belajar,
·         Autisme,
·         Down Syndrom,
·         Cerebal Palsy,

Dari Brain Gym ini akan diaktifkan 3 dimensi Otak meliputi Otak Atas-Bawah, Kiri-Kanan, Depan-Belakang sehingga anak mampu dan siap belajar dengan baik.

9.      TERAPI ABA (APPLIED BEHAVIOR ANALYSIS) / METODE LOVAAS

ABA (Applied Behavior Analysis) yaitu suatu ilmu perilaku terapan untuk mengajarkan dan melatih seseorang agar menguasai berbagai kemampuan yang sesuai dengan standar yang ada di masyarakat.  Dasar-dasar ABA sudah dikembangkan sejak mulai 1 abad yang lalu, dan melalui berbagai penelitian yang luas dan banyak sekali.
ABA untuk penyandang autisme pertama kali diterapkan oleh Prof. Ivaar Lovaas (meninggal dunia pada 2 Agustus 2010 dalam usia 83 tahun) di UCLA (University of California, Los Angeles) pada tahun 1962.
Kemudian beliau mempublikasikan hasilnya pada tahun 1967 dan berbagai publikasi penelitian-penelitian lainnya pada tahun-tahun berikutnya. Publikasi monumental ini menyebabkan ABA dikenal juga sebagai Metode Lovaas.
Sejak itu sampai sekarang, tehnik-tehnik maupun kurikulum ABA untuk penyandang autisme sudah sangat dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi ABA, dengan melalui berbagai penelitian dan penerapan, sehingga membuahkan hasil yang menakjubkan dalam terapi autisme.
Kelebihan ABA untuk penyandang autisme antara lain (tapi tidak terbatas pada ini saja), yaitu kurikulum yang sistematik, terstruktur dan terukur.
·                     Sistematik yaitu terapi dimulai dari tingkat kemampuan anak saat assessment (penilaian/pemeriksaan) dibuat, dan apakah prasyarat untuk mengajarkan/melatih aktivitas/program/kurikulum bersangkutan sudah dikuasai oleh anak, bila belum maka diajarkan/dilatih terlebih dahulu prasyaratnya.
Kemudian, setelah suatu aktivitas dikuasai, dilanjutkan dengan aktivitas berikutnya yang sudah jelas urutan-urutan/tahapannya sampai program/kurikulum berakhir/selesai yaitu anak masuk ke dalam mainstreaming (yaitu anak masuk sekolah reguler, berkembang seperti anak lain sepantarannya, dan kemudian bisa hidup mandiri di masyarakat).
·                     Terstruktur, yaitu dalam mengajarkan/melatih suatu aktivitas/program/kurikulum, digunakan berbagai teknik terapan (misalnya DTT, DT, EO, dlsb) yang telah diteliti dan dikembangkan oleh para ahli dan praktisi ABA.

·                     Terukur, yaitu digunakan lembar penilaian sehingga kita semua bisa dengan yakin mengatakan bahwa seorang anak telah bisa/menguasai suatu aktivitas/program/kurikulum ataukah belum.
Pada berbagai penelitian, didapatkan bahwa anak-anak autistik yang diterapi dengan ABA mengalami kemajuan yang pesat dan signifikan dalam hal IQ, bahasa, kemampuan akademik, dan perilaku adaptif maupun perilaku sosialnya.
Bahkan pada suatu penelitian, beberapa anak “Autistik” yang telah diterapi dengan ABA, dicampur (diikut sertakan) dengan anak-anak yang lain yang tidak pernah mengalami gangguan perkembangan apapun, kemudian dilakukan tes oleh para ahli.
Ternyata anak-anak “AUTISTIK” yang telah diterapi dengan ABA tersebut tidak dapat dibedakan dengan anak-anak lainnya yang tidak pernah mengalami gangguan perkembangan apapun dalam hal IQ, bahasa, kemampuan akademik, dan perilaku adaptif maupun perilaku sosialnya.
Di Indonesia, banyak orang-orang/terapis-terapis dan tempat-tempat terapi yang mengatakan menggunakan ABA, namun ternyata bukan ABA sebenarnya atau bisa dikatakan sebagai ABA-ABA-an, ataupun ternyata banyak salahnya. Sehingga ada orang-orang yang mengemukakan bahwa ABA tidak berhasil, padahal mereka merujuk pada orang-orang/terapis-terapis atau tempat-tempat terapi yang demikian itu, sehingga sepatutnyalah bahwa kesalahan itu tidak ditudingkan kepada ABA.
Sampai saat ini Belum ada metode lain yang sangat terstruktur dan mudah diukur hasilnya, sebagaimana metode ABA. Selain untuk penyandang autis, metode ABA yang tegas dan tanpa kekerasan ini sangat baik bila diterapkan kepada anak-anak dengan kelainan perilaku yang lain (Hiperaktif, Hipoaktif, dll) bahkan anak normal.
70% penyandang AUTIS itu RM, namun setelah ditangani dengan ABA kok melonjak tingkat kemampuannya. Dr tdnya 50, 60, 70.... meloncat mnjadi 120, 125. IQ tidak bisa meloncat mungkin naik turun sj..misalnya orang normal IQnya 120 besok di test maka bs mnjadi 115 atau 125 tidak bs dr 120 mnjadi 150, kecuali hr ini sdg sakit dan berpikir sj susah, maka kemungkinan itu ada, nah ini sama dg Anak Autistiknya hanya wktu sblm ditangani ABA tidak terukur IQ-nya. Karena pemeriksaan IQ harus anak bisa komunikasi. Dia mengerti instruksi dan bisa berespon.
Prinsip dasar metode ABA :
·                  KEHANGATAN yang berdasarkan kasih sayang yang tulus, untuk menjaga kontak mata yang lama dan konsisten
·                  TEGAS (Tidak dapat ditawar-tawar anak)
·                  TANPA KEKERASAN dan TANPA MARAH/JENGKEL atau KASIHAN pada anak
·                  PROMPT (bantuan, arahan) secara TEGAS tapi LEMBUT
·                  APRESIASI anak dengan IMBALAN yang EFEKTIF, sebagai motivasi agar selalu bersemangat

Yang Dibutuhkan dalam Terapi ABA :
1.      Ruangan Terapi
Ruangan terapi one-on-one 2 x 2 m2 – 3 x 3 m2. Tidak terlalu sempit dan juga tidak terlalu luas. Sehingga anak tetap dalam kontrol Terapis. Penerangan harus mencukupi, suhu ruangan harus sejuk, Dinding dan jendela harus bebas distraksi. Jendelapun juga harus tertutup.
2.      Meja dan kursi
Disesuaikan dengan tinggi anak. Kursi terapis lebih pendek dari kursi anak. Diakrenakan tinggi mata terapis sebaiknya sejajar dengan kedua mata anak. Bila anak masih belum patuh meja bisa dipakai yang setengah lingkaran. Sehingga alternatif keluar dari kursi masih bisa di kontrol.
3.      Media Alat Peraga
Berupa Kartu Alat Peraga untuk menunjang pemahaman dalam bentuk visualisasi. Dalam benda, buah, binatang, profesi, lawan kata, dll. Kemudian diberikan pemahaman instruksi dan divisualkan lewat kartu.
4.      CCTV
Sudah tersedia di tiap-tiap kelas..untuk memudahkan orang tua dalam belajarnya. Karena bila anak seringkali dilihat maka anak mudah terdistraksi. Juga untuk mengontrol kesalahan terapis di dalam menerapi anak. Sehingga instruksi dan penanganannya tepat.
5.      Lembar Penilaian dan Prosentase
Untuk mengukur tingkat kemampuan dan keberhasilan anak dari awal terapi hingga proses berjalannya terapi berlangsung. Pencatatan hasil harus selalu diberikan dalam proses terapi. Sehingga benar2 terukur dan bila anak sudah dianggap menguasai maka lembar penilaian ini sebagai bukti otentik kepada diri sendiri dan  orang tua.
6.      Buku Komunikasi
Sebagai buku laporan harian atas masalah dan perilaku anak selama proses terapi berlangsung.
Apakah anak sedang dalam keadaan baik saat belajar, atau marah, atau tertawa, dll. Dan pada saat perilaku muncul analisa penyebabnya dan saat program apa diberikan. Kemudian Solusi apa dari terapisnya.
Misalkan :
Masalah : * ”A” marah saat terapi Matching (menyamakan) dengan memukul-mukul kepala lalu menggigit tangan
Solusi : * Assisten Terapis memegang tangan anak dan membantu anak dalam merespon dan terapis tetap memberi instruksi. 
7.      Terapis dan Assiten
1 orang Terapis dan 1 orang assisten terapis untuk 1 anak. Terapis di depan anak memberi instruksi sesuai Program dan Assisten Membantu anak dalam merespon instruksi serta mengontrol kondisi anak bila anak sudah mulai menunjukkan perilaku keautistikannya seperti Flapping, Stimming, dll. Tugas terapis :
·      Mengontrol Anak dan Assisten terapis,
·      Menguasai kelas
·      Memberi Reward saat anak berhasil melakukan instruksi

8.      Program Anak
Disesuaikan dengan kemampuan anak. Apakah ikut dalam Program Awal, Menengah, Ataupun Lanjutan.
Pemberian Program berdasarkan Observasi awal sampai dimana kemampuan yang dimiliki anak.
Di dalam Program dan Kurikulum ABA melingkupi :
1.      Kemampuan mengikuti Pelajaran (Kontak mata dan Kepatuhan - duduk dan berdiri atas instruksi)
2.      Kemampuan Menirukan (Imitasi)
3.      Kemampuan Bahasa Reseptif (Kognitif)
4.      Kemampuan Bahasa Ekspresif
5.      Kemampuan Pre-Akademik
6.      Kemampuan Akademik
7.      Kemampuan Bina Diri
8.      Kemampuan Bahasa Abstrak
9.      Kemampuan Bersosialisasi

Setelah anak menjalani program dari kurikulum ABA ini maka terapis sudah bisa merekomendasikan ke orang tua apakah anak sudah bisa disekolahkan reguler atau belum, ataukah sudah mulai dicobakan untuk sosialisasi dan lain-lain.

Pelaksanaan Terapi ABA ini membutuhkan waktu yang banyak dan harus konsisten serta berulang-ulang yaitu 1 hari butuh minimal 8 jam terapi ABA ini dengan berbeda waktu, berbeda terapis, berbeda suara tetapi program yang sama...Dibutuhkan kerjasama yang baik antara orang tua dan terapis bila ada team yang lain maka diharapkan orang tua menjadi manajer terapi anak sehingga berjalannya Terapi ABA ini kembali terstruktur.  Pengembangan pada generalisasi program terapi harus semua menjalankan. Eliminasi terlebih dahulu orang2 yang merusak program terapinya misalnya bila ada kakek/neneknya memberi makanan saat anak Diet, atau memarahi orang tua/terapis karena mendisiplinkan anak sehingga anak mulai tidak patuh, dll. Berarti jauhkan dari Jangkauan KAKEK dan NENEKnya. J untuk sementara waktu sampai anak sudah mulai memahami instruksi, bahasa dan perilaku dirinya sendiri dan orang lain.

www.riskatimot.blogspot.com

TERIMA KASIH
J TUHAN MEMBERKATI J

1 komentar: